Gedung Papak: Jejak Budak Seks Tentara Jepang
Tempat , TERBARU 03:58
0
Shares

SejarahRI.com – Bangunan tua yang berada di Desa Geyer (Kecataman Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah) itu menyerupai rumah hantu. Kotor, tak terurus dan berdebu. Pada tiap sudutnya, sarang laba-laba menggantung tak beraturan. Orang-orang menyebutnya Gedung Papak.

Sengaja dijadikan sebagai cagar budaya, karena gedung tersebut menyimpan sejarah kelam bangsa Indonesia selama masa penjajahan. Sejak kekuasaan Jepang mencengkram negeri ini kurang lebih 3,5 tahun, di situlah para tentaranya menikmati pesta seks.

Di atas gedung yang berdiri di lahan Perhutani KPH Gundih itu, para gadis pribumi dipaksa melayani tentara Jepang untuk memuaskan hasrat birahinya. Mereka bercumbu di kamar-kamar yang tersedia.

Jumlah kamarnya ada delapan. Empat ruang di atas, selebihnya di lantai bawah. Pintu masuknya sangat besar. Ukurannya sekitar 3 meteran. Di dalam gedung yang beralas plester itu juga terdapat kamar mandi dengan bak kecil dan dapur tungku.

Gedung ini menjadi bukti sejarah tentang adanya sebuah praktik asusila yang dilakukan oleh tentara Jepang terhadap para perempuan Indonesia. Para perempuan itu merupakan tawanan dan dianggap budak.

Istilah yang sempat populer untuk mereka adalah “jugun lanfu”. Penyebutan ini memang dipakai untuk para tawanan perempuan yang oleh tentara Jepang dijadikan sebagai budak seks saat Perang Dunia II berlangsung.

Para jugun lanfu yang dipaksa melayani kepuasan seks tentara Jepang di gedung itu kebanyakan diambil dari gadis-gadis desa warga asli Grobogan. Mereka dipakai secara bergantian dan disiksa.

Kebanyakan wanita yang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang malu dan menghilang. Ada seorang nenek saksi bisu yang menjadi korban budak seksual tentara Jepang. Setahun sekali ia datang diantar keluarganya ke Gedung Papak. Namanya Sri Sukanti, ia menangis marah menceritakan sejarah kelam Gedung Papak. Di kamar di gedung Papak, ia dan gadis lain yang diculik digilir paksa jadi tawanan budak seks tentara Jepang,” kata Sokiran (60), penjaga Gedung Papak kepada Kompas.com.

Menurut Administratur Perum Perhutani KPH Gundih Divisi Regional Jateng, Sudaryana, gedung tersebut dibangun pada 1919. Belanda menggunakannya sebagai markas besar tentaranya.

Ketika Belanda tekuk lutut kepada Jepang, gedung tersebut dialihfungsikan sebagai rumah bordir tempat berlangsunya pesta seks yang sangat kejam. Nah, setelah tentara Jepang angkat kaki dari Indonesia, gedung tersebut pada 1953 dialihfungsikan kembali. Perum Perhutani menjadikannya sebagai rumah dinas Administratur KPH Gundih.

Dari dulu, gedung ini memang seperti itu bentuknya. Karena tak pernah dipugar. Keasliannya masih terjaga. Namun, setelah satu keluarga Administratur KPH Gundih meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, gedung tersebut tak terawat.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id