Fatmawati Diramal, Bung Karno Melamar
TERBARU , Tokoh 13:03
0
Shares

1 Juni 1943, Sukarno menikahi istrinya yang ke-3. Perempuan yang dinikahi itu adalah gadis Bengkulu yang baru berumur 20 tahun. Namanya adalah Fatimah. Karena menikah dengan Bung Karno, nama itu kemudian diganti menjadi “Fatmawati.”

Waktu Fatimah masih berumur 4 tahun, 1927 dia tinggal bersama ayahnya, Hasan Din di Bengkulu. Suatu hari, ayahnya sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah ruangan yang digunakan sebagai tempat permainan billiyard. Saat dia dan teman-temannya lagi asyik berbincang-bincang ringan, datang seorang lelaki yang berperawakan Timur Tengah.

Lelaki itu adalah keturunan India. Warga mengenalnya sebagai orang yang memiliki kemampuan “lain” dan “luar bisa”. Dia dipercaya dapat meramal nasib orang.

Setelah dipersilakan masuk, orang India itu membaca nasib orang-orang yang ada di sana. Tapi ada satu orang yang tak mau. Yakni Hasan, ayahnya Fatimah itu.

Sebab dia tak percaya kepada peramal. Karena bagi Hasan, itu bertentangan dengan ajaran agamanya. Hari itu, orang India itu tak jadi meramal Hasan.

Tapi di lain kesempatan, Hasan mau untuk diramal oleh orang India itu tapi niatannya hanya iseng. Setelah tangannya diulurkan, orang India itu membacanya. Lalu dia bertanya kepada Hasan, “apakah tuan mempunyai seorang anak perempuan yang berumur kira-kira 4 tahun?

Ya, saya mempunyai seorang anak perempuan yang berumur kurang lebih 4 tahun,” jawab Hasan. Orang India sang peramal itu berkata lagi, “anak tuan yang ada sekarang ini nantinya akan mendapat jodoh orang yang mempunyai kedudukan tertinggi di negeri ini.”

Mendapatkan penjelasan dari ahli nujum itu, Hasan bergumam dalam hatinya, “mana mungkin anakku dapat suami yang mempunyai jabatan peling tinggi di negeri ini. Jabatan yang paling tinggi untuk orang Bumi Putera adalah Wedana. Orang yang tertinggi jabatannya selalu bangsa Belanda, dan tak mungkin anakku menjadi isteri seorang kulit putih.” Rupanya, Hasan masih belum percaya terhadap ramalan itu. Maklum, karena waktu itu dia merupakan sekertaris Muhammadiyah setempat.

Namun meski Hasan tak percaya, ramalan itu ternyata benar. Fatimah kelak menjadi istri orang besar yakni Presiden RI yang pertama di Indonesia, Bung Karno. Pertemuan Fatimah dengan Bung Karno bermula sejak tahun 1938. Waktu itu, Bung Karno yang dibuang ke Flores dipindahkan ke Belitung.

Kabar kedatangan Bung Karno ke Belitung sampai ke telinga Hasan, ayah Fatimah itu. Hasan memang orang yang sangat mengidolakan Sukarno. Bahkan dia saat itu berencana ingin bertemu Bung Karno.

Rencana itu berhasil. Hasan dan Fatimah bertemu Bung Karno di kediamannya. Itu ‘lah pertemuan perdana Fatimah dengan Bung Karno. Ternyata, pertemuan itu membawa nasib Fatimah sesuai dengan perkataan si peramal orang India itu.

Kemudian hari, setelah berumur 20 tahun, Fatimah benar-benar dilamar oleh seseorang yang memiliki jabatan paling tinggi. 1 Juni 1943, dia resmi menikah dengan Bung Karno. Namanya ‘pun diubah menjadi “Fatmawati”. (Sitor Situmorang dan Guntur Sukarnoputra, Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I, 1978).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs