Fakta di Balik Wafat Bung Karno
TERBARU , Tokoh 03:38
0
Shares

SejarahRI.com Р21 Juni 1970, Bung Karno meninggal. Putra sang fajar itu menghembuskan napas terakhirnya di tengah situasi politik yang rumit.

Kematiannya adalah duka seluruh bangsa. Bukan hanya dulu, tapi juga sekarang. Dari itu, tiap tanggal itu haul Bung Karno sering diselerenggarakan.

Bagi kita yang merindukannya, penting kembali mengingat kisah-kisahnya. Terutama mengenai fakta kematian Bung Karno yang jarang diketahui.

Setelah lengser

Bung Karno meninggal di usia 69 tahun setelah lengser dari kekuasaan. Tepatnya, tiga tahun paska pencabutan tugas kepresidenannya oleh SI MPRS bulan Maret 1967.

Keputusan tersebut bukan hanya menggeser Bung Karno sebagai orang nomor satu di negeri ini, namun juga secara tak langsung memenjarakannya. Karena sejak keputusan itu keluar, dia dilarang ikut aktivitas politik apapun.

Akibat itu, dia kesepian. Tak sedikit dari kawan-kawannya yang menjauh. Yang awalnya hangat dan akrab, kemudian jadi menghilang tanpa kabar.

Semua ini terjadi setelah persitiwa G30S 1965 meletus di Jakarta. Terbunuhnya para jenderal petinggi AD itu menuai persepsi politik yang tak lagi sehat.

Tuduhan sana-sani berseliweran tanpa arah. AD menuduh dalangnya adalah PKI, sementara PKI sendiri merasa tak tahu menahu dan juga merasa terjebak tanpa tahu siapa yang menjebaknya.

Lantaran dianggap dekat dengan PKI, Bung Karno ‘pun kena imbas. Dia tak luput dari tuduhan yang kurang sedap. Akibatnya, dia diasingkan di akhir hidupnya.

Saat sakit

Di usia senja, Bung Karno memang kerap sakit-sakitan. Apalagi paska huru hara politik 1965. Instabilitas jiwa dan pikirannya berdampak serius terhadap kesehatan tubuhnya yang kian melemah.

Namun di tengah kebutuhan perawatan khusus seperti itu, dia malah harus kehilangan para dokter pribadinya: Prof Siwabessy, dr Soeharto , dr Tang Sin Hin, dan Kapten CPM dr Soerojo. Lantaran konflik politik, tim medis tersebut dibubarkan oleh rezim baru (Soeharto) pada Juli 1967.

Karena tak lagi punya dokter pribadi, penanganan kesehatan Bung Karno di akhir hidupnya kurang memadai. Fasilitas yang dia dapat tak selayaknya untuk seorang mantap presiden.

Bagaimana tidak, satu-satunya dokter yang merawatnya adalah Soerojo. Orang ini bukan dokter spesialis melainkan dokter hewan.

Di tengah derita penyakit yang kian kritis, Soerojo hanya memberi Bung Karno suntikan vitamin B1 dan B12. Padahal, penyakit Bung Karno komplikatif: mulai dari ginjal, hipertensi, penyembitan pembuluh darah, dll (Peter Kasend, 2012). Belum lagi soal psikis lantaran tekanan politik.

Tapi Bung Karno tetap tabah. Meski Soeharto (sebagai presiden baru) tak kunjung mendengarakan permintannya, dia tetap berusaha bertahan. Berbaring lemas melawan penyakit tanpa peralatan medis yang lengkap. Alat cuci darah saja tak ada.

1968, kondisi Bung Karno semakin kritis. Dia ingin berobat ke Jakarta dengan harapan dapat fasilitas yang lebih memadai. Namun keinginan tersebut ditolak oleh Pangdam Jaya. Bung Karno hanya boleh berobat di Bogor.

Dia baru diizinkan setelah Ibu Hartini menulis surat kedua kalinya kepada Soeharto. Akhirnya, Bung Karno bisa dirawat di Wisma Yaso kemudian pindah ke RS Pusat Angkatan Darat hingga meninggal di sana.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs