Dulu, Indonesia Sangat Tegas Pada Israel
Peristiwa 02:54
0
Shares

Baru-baru ini jagat dunia maya digemparkan dengan berita lawatan beberapa wartawan senior media mainstream Indonesia ke Israel, menemui Perdana Menteri Netanyahu.  Dalam laporan yang dilansir situs resmi kementrian luar negeri Israel senior Tempo, Kompas, MetroTv, Jawa Pos, dan Bisnis Indonesia itu terbang atas undangan Israel. Israel berharap lewat media, hubungan Indonesia-Israel mulai bisa dilazimkan. Jelas pro-kontra pun meluas mengingat secara konstitusi, ideologi, dan banyak pandangan masyarakt Indonesia, Israel illegal keberadannya karena beradasarkan penjajahan terhadap Palestina.

Tapi kunjungan macam ini bukan kali pertama. Dengan respon dan tujuan yang sama, Tantowi Yahya pada 2013 lalu, selaku Wasekjen Partai Golkar juga melakukan kunjungan ke Israel. Bahkan ia mengaku dijamu oleh petinggi-petinggi Zionis. Baik dari kalangan parlemen, pemerintah ataupun kampus di wilayah Yahudi.

Menyayangkan ketidak konsistenan mereka terhadap prinsip bangsa, mengingatkan kita pada ketegasan Indonesia dalam menentang penjajahan; dalam kasus ini, Israel terhadap Palestina.

Indonesia dan Israel tak terpaut jauh tahun lahirnya. 1945 dan 1948.

Jadi pada tahun 1950, saat umur sangsaka resmi lima tahun, Israel yang baru berumur dua tahun menawarkan pengakuan penuh terhadap kedaulatan Republik Indonesia. Namun Presiden Soekarno lewat Hatta menolak tawaran itu dengan tegas.

Saat itu, Bung Hatta hanya menjawab telegram dari Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett itu dengan ucapan terimakasih. Bung Hatta tidak menerima pengakuan kedaulatan dari Israel.

Di lain kesempatan, dalam pidatonya pada peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta, 18 April 1965, Soekarno masih mengutuk penjajahan Israel. “Bagi kita Israel, Yaman Selatan dan Malaysia secara legal tidak ada! Mereka itu secara legal memang tidak ada,” katanya.

Tak cukup disitu, tensi ini merambah dunia olahraga. Dalam ajang Piala Dunia 1958 di Swedia, Soekarno menyatakan timnasnya menolak tampil di putaran kedua yang mempertemukan juara grup zona Asia dan Afrika. Disini Indonesia akan bertemua Mesir, Sudan, dan tentu saja Israel.

PSSI kalang kabut karena ini adalah kesempatan emas, pikirnya. Akhirnya mereka mencoba melobi Soekarno dan tembus. Soekarno membolehkah Indonesia selapangan dengan Israel dengan satu syarat: pemain Israel dilarang menginjakan kaki di Indonesia.

PSSI pun mengajukan proposal ke FIFA agar pertandingan dilakukan di tempat netral atau, tak masalah jika harus di Tel Aviv. Namun FIFA kadung marah dengan sikap Indonesia dan bersamaan dengan Mesir dan Sudan, mereka bertiga dianggap mengundurkan diri.

Lain lagi kisahnya Asia Games. Soekarno dengan lantang menentang kepesertaan Israel dan Taiwan di Asian Games. Hal itu ditunjukan Soekarno dengan tidak mengundang Israel dan Taiwan di Asian Games tahun 1962 yang berlangsung di Jakarta.

Atas sikap tegas Soekarno itu, Komite Olimpiade Internasional (KOI) kemudian mencabut sementara keanggotaan Indonesia dalam organisasi tersebut. Tak kalah galak, Soekarno lantas menyatakan Indonesia keluar dari KOI dan menggagas dibentuknya olimpiade tandingan dengan nama GANEFO (Games of the New Emerging Forces).

Mungkin pasca Soekarno, ketegasan berupa aksi menentang penjajahan Israel belum terlihat. Bahkan jauh bertentangan, Presiden keempat Abdurrahman Wahid menggulirkan ide buat menormalkan dan membuka hubungan resmi dengan Israel. Hal itu pun mendapat tentangan hebat berujung pada lengsernya Gus Dur. Lain lagi berbagai macam pertemua pejabat dan delegasi Indonesia—bahkan di jaman Soekarno—dengan agen-agen Israel di luar negeri sampai daerah pendudukan.

Untungnya, Presiden Joko Widodo dalam KTT OKI ke-5 di Jakarta kemarin sempat menyerukan pemboikotan segala produk yang berasal dari Israel, atas dasar solidaritas terhadap Palestina. Memang, masih sekedar verbal.

Yang paling baru adalah, kecaman Kementrian Luar Negeri Indonesia terhadap lawatan petinggi media tanah air ke Yerusalem. Meski mengaku negara tak bisa melarang kunjungan serupa, namun “Kita terus perjuangkan kemerdekaan Palestina agar Palestina mendapat kemerdekaan dari Israel,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, Selasa (29/3/2016).

Yah, meski naik turun, posisi Indonesia, baik pemerintah maupun rakyat dihadapan penjajahan dan ketidakadilan harus terus dikuatkan. Intinya, “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” –Pembukaan UUD 1945. (Diolah dari merdeka, islamindonesia, gantigol, tempo/Gambar: islamindonesia)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs