Dua Tentara Jepang yang “Ngefans” ke Tan Malaka
TERBARU , Tokoh 19:55
0
Shares

Saat Jepang menjajah Indonesia, Tan Malaka adalah salah satu “mimpi buruk” Jepang, lantaran ia seorang pemimpi revolusi. Karenanya, ia menjadi orang paling diburu para tentara Jepang.

Beberapa kali dikabarkan kalau orang yang memiliki banyak nama samaran itu berhasil ditangkap. Tapi nyatanya bukan. Lagi-lagi selalu Tan Malaka palsu. Sosok aslinya belum pernah tertangkap (Wenri Wanhar, Jejak Intel Jepang: 2014).

Suatu saat, Tan Malaka datang ke rumah Ahmad Subardjo (Teplok Press, 2000). Subardjo sendiri merupakan teman dekat Tan Malaka sejak masih di Belanda, yakni pada tahun 1915-an. Subardjo juga orang pertama yang memanggil dia dengan nama “Tan Malaka” (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid 3).

Kedatangan Tan Malaka ke rumah teman dekatnya itu merupakan hari pertama setelah keduanya berpisah di Belanda lebih 20 tahun. Hari itu, tepat pada tanggal 25 Agustus 1945. Yakni, tujuh hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan (Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi: 1978).

Awalnya, Soebardjo sulit mengenali Tan. Maklum, lama berpisah. Pertama bertemu di ruang depan rumahnya, Soebardjo merasa pernah mengenal tamunya yang memilih duduk di pojok itu. Sepintas rautnya mirip Iskaq Tjokrohadisuryo, bekas anggota Perhimpunan Indonesia di Belanda. Namun, ketika didekati, Soebardjo langsung terhenyak. “Wah, kau Tan Malaka,” katanya. “Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar kau disebut jadi korban dalam kerusuhan di Birma, ada lagi kabar kau berada di Yerusalem, dan dikatakan mati dalam kerusuhan Israel,” lanjut Soebardjo. “Onkruid vergaat toch niet,” balas Tan Malaka dalam bahasa Belanda sembari tertawa, yang kira-kira artinya: “Alang-alang toh tak dapat musnah kalau tak dicabut dengan akar-akarnya.”

Di rumah Subardjo yang berada di Jalan Cikini Raya 82 Jakarta itu, dia menginap selama tujuh hari tujuh malam (Harry A. Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: 2008). Suatu hari, datang dua tamu tak diundang ke rumah itu. Dua orang itu adalah teman sekantornya Subardjo di Kaigun Bukanfu, kantor penghubung Angkatan Laut Jepang yang ada di Jakarta (Wenri Wanhar, Jejak Intel Jepang: 2014).

Nama kedua orang itu adalah Tomegoro Yoshizumi dan Shigetada Nishijima. Yoshizumi adalah kepala intelijen Kaigun Bukanfu. Sedangkan Nishijima, tangan kanan Laksamana Maeda. Dua-duanya merupakan tentara Jepang yang loyalitasnya tak diragukan.

Setelah dua orang itu dipersilakan masuk, mereka berempat berbincang-bincang. Perbincangan mereka seputar politik dan pergerakan. Seseorang di antara mereka sangat canggih menjelaskan situasi politik dan keluasan pengetahuannya terkait itu. Dua orang itu sangat terkesima kepadanya.

“Kamu tahu ini siapa?,” kata Subardjo kepada dua temannya itu. Mereka berdua hanya geleng-geleng kepala. Beberapa jam kemudian, ketika obrolan sudah mulai ringan, Subardjo memperkenalkan dan memberitahukan siapa sebenarnya orang yang pintar berbicara itu tadi. “Ini adalah Tan Malaka yang asli,” kata Subardjo (Wenri Wanhar, Jejak Intel Jepang: 2014).

Dua tentara Jepang itu tidak menangkapnya, tapi malah berjabat tangan. Bahkan, Nishijima sempat bergumam, “Betapa indahnya menjadi seorang revolusioner” (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid 3). Mereka berdua akhirnya “kecantol” sama pesona Tan Malaka.

Lantaran pertemuan itu, Tomegoro Yoshizumi dan Shigetada Nishijima minta dibaiat menjadi orang Indonesia oleh Tan Malaka. Akhirnya, Tan Malaka pun membaiat keduanya dan memberi nama Indonsesia, “Hakim” Nishijima dan “Arif” bagi Yoshizumi (Wenri Wanhar, Jejak Intel Jepang: 2014).

 




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id