Kisah Pemulung Bergelar Doktor
TERBARU , Tokoh 21:56
0
Shares

SejarahRI.com – Tiap usai maghrib, kakek tua itu berkeliling, menyusuri sudut-sudut kecil kota Blora, Jawa Tengah. Dia mengendarai motor butut dengan keranjang di belakang.

Tiap kali menemukan tumpukan sampah, dia berhenti dan memasukkannya ke keranjang itu. Begitu tiap hari dia bekerja hingga larut malam; mengais rezeki di usia senja sebagai pemulung.

Di sela-sela memungut dan menjual sampah, lelaki berjengkot-kumis tebal menyerupai Karl Marx itu duduk di meja kesayangannya. Dia menulis. Ya, si pemulung itu menulis.

Bukan pemulung biasa
Banyak orang mungkin menyangka, dia tak beda dengan pemulung pada umumnya. Berangkat dari keluarga miskin dan tak berpendidikan.

Bila memang ada, sangkaan itu salah. Karena dia bukan pemulung biasa. Dia adalah Soesilo Toer, adiknya Pram. Ya, Pramoedya Ananta Toer, novelis terkenal itu.

Dia menjadi pemulung bukan karena tak berpendidikan. Dia adalah jebolan Rusia di tahun 1960-an. Dia menjadi seperti itu lantaran arus politik yang menghempaskan dirinya.

Karir pendidikan
Kakek (81) kelahiran 17 Februari 1937 itu memiliki background pendidikan yang cemerlang. Pada masa mudanya, dia sempat mengenyam beberapa bangku kuliah: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI); IKIP Jakarta Selatan; dan lulus diploma di Akademi Keuangan Bogor.

Baru pada tahun 1962, dia berangkat ke Rusia untuk melanjutkan studinya. Di antara 9.000 pendaftar, dia termasuk salah satu dari 30 peserta yang lolos.

Di negara raksasa yang masih bernama Uni Soviet itu, Soes mengambil studi di Fakultas Politik dan Ekonomi University Patrice Lulumba.‎ Gelar Phd-nya dia selesaikan di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov hanya dalam waktu 1,5 tahun, tempo yang cukup singkat untuk studi yang seberat itu.

Desertasi yang berhasil dia rampungkan ‘pun menarik. Judulnya, “Republik Jalan Ketiga“.

Karyanya ini sempat dituduh sebagai buah plagiat. Dia diisukan mencontek bukunya sosiolog Inggris, Anthony Gidden, The Third Way.

Namun dia membantah. “Dikira menjiplak (disertasi) karena ada sosiolog dari Inggris menulis The Third Way. Saya sempat gelagapan, kok aneh ada tuduhan itu. Saya punya buku The Third Way, dia nulis tahun 1980, saya nulis tahun 1967. Duluan saya 13 tahun, kok saya jiplak, bagaimana?” katanya kepada (Rf.1).

Masa gemilang
Selama 11 tahun berada di Rusia, dia hidup bergelimang harta. Dia tak pernah kekurangan.

Dengan berbagai keahlian yang dimiliki (seperti menulis, riset, terjemah, dll) dia mudah raup rezeki. Kantongnya selalu terisi.

Tiap minggu sekali, dia pasti pergi ke restoran elit untuk menyantap makanan-makanan lezat nan mahal. Sesekali dia pesta bersama rekan-rekannya.

Buku-buku sastra Rusia terbaik selalu dia baca. Dia tak pernah ragu merogoh kantong untuk membelinya.

Hidupnya benar-benar enak. Selain bekerja, dia menikmati keseharian dengan menulis, membaca, dan berpesta.

Kemujuran hidup seperti ini terus memihaknya hingga huru hara G30S 1965 meletus di Jakarta. Peristiwa itu berdampak serius terhadap jalan cerita nasibnya kemudian hari.

Paska kejadikan itu, jarum takdirnya pelan-pelan menunjuk ke arah sebaliknya. Dia menjadi orang yang sangat sengsara.

Masa Suram
Pada suatu kesempatan, Kedutaan Besar Indonesia di Moskow menggelar pengajian dalam rangka mendoakan para korban keganasan yang dilakukan PKI. Soes tak hadir karena merasa tak diundang.

Dia yakin, lantaran kealpaannya kelak tuduhan sebagai simpatisan PKI mendarat padanya. Betul, tuduhan semacam itu betul-betul dia alami.

1973, dia bertandang ke Tanah Air, pulang dari perantaun untuk menunaikan janji: mengabdi kepada negara selama 10 tahun. Tapi harapan itu pupus karena rezim berganti dan alur politik telah berubah.

Tiba-tiba saat menginjak bandara, dia ditangkap oleh aparat keamaan. Dia diseret dengan paksa dan harus mendakam di penjara selama 6 tahun.

Rupanya, dia dituduh sebagai antek PKI hanya karena lulusan kampus politik dan ekonomi di Rusia dan sekaligus sebagai adik kandung Pram. Tuduhan itu membuatnya tak berkutik.

Dia baru bisa menghirup udara bebas pada tahun 1978. Namun sebagai eks tahanan politik Orde Baru, nama dan karirnya mustahil bangkit.

Oleh Orba, dia dilempar ke “jurang lembah hitam” yang tak mungkin bisa keluar. Dia dicap sebagai PKI dan dinista-hinakan secara sosial untuk selama-lamanya.

Ijazahnya tak diberlakukan. Dan, nama baiknya dipandang sebelah mata.

Demikian fakta sosial mendeterminasi nasib Soes. Lantaran huru hara politik, sang doktor ekonomi itu harus memungut sampah hanya untuk sesuap nasi.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id