Danarto: “Kematian Itu Membahagiakan”
TERBARU , Tokoh 16:35
0
Shares

Berapapun jumlah nyawa yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan hidupnya, tak akan sanggup memolesnya menjadi keabadian.” Kalimat ini adalah tulisan Danarto di Harian Republika, Keabadian, oh, Keabadian yang terbit pada 25 Agustus 1996. Dia mengutip ucapan Begawan Watusisir kepada ayahnya, salah satu tokoh yang dia angkat dalam karya itu–yang kemudian dibukukan dalam bentuk bunga rampai, Begitu Ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu (1996).

Dia menulis “kolom refleksi” tersebut pada usia 56 tahun. Di umur segitu, tema kematian bagi seroang manusia memang kerap menjadi persoalan tersendiri. Apalagi bagi orang seperti dia, seniman yang gemar menyelami “lautan” spirtualitas.

Ternyata, apa yang ditulisnya itu kelak dia alami sendiri. Seperti Begawan Watusisir, dia tak dapat melawan kematian. Selasa, 10 April 2018, Danarto meninggal dunia akibat tertabrak motor di Jalan Ir. Juanda, Ciputat depan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Awalnya dia sempat tertolong dan dibawa ke Rumah Sakit UIN yang tak jauh dari lokasi kejadian. Lalu, kemudian dirujuk ke RS Fatmawati. Di rumah sakit itulah dia mengembuskan napas terakhirnya.

Berbagai media nasional meliput berita duka tersebut. Karena yang meninggal itu bukan sembarang orang. Dia adalah Danarto, seniman besar yang karyanya sudah di mana-mana.

Karir lelaki kelahiran 27 Juni 1940 (Sragen, Jawa Tengah) itu dalam dunia seni bermula sejak dia kabur ke Yogyakarta. Dia merantau ke daerah itu karena tak ingin mendapatkan hukuman yang kesekian kali dari ayahnya. Sebelum kabur, dia sempat diikat ditiang listik dan dicambuk oleh ayahnya karena dua kali tak lulus Sekolah Dasar (SD).

Dia gagal lulus lantaran nilai pelajaran matematikanya anjlok. Dia memang lemah dalam bidang itu. Padalal untuk pejalaran lain, dia dapat meraih nilai baik. Namun ayahnya tak mau tahu. Danarto tetap harus menjalani hukuman.

Hukuman kedua kalinya, dia terima lagi ketika di bangku SMP. Lagi-lagi dia gagal lulus lantaran satu mata pelajaran itu. Dia benar-benar menyerah ketika harus berhadapan dengan aljabar.

Karena melihatnya dihukum, Aminah tak tega. “Saya dan ibu itu duet yang paling bagus. Berdua tangis-tangisan, keras sekali. Konyolnya, saya mestinya melarikan diri waktu mau diikat, misalnya dua hari dua malam enggak pulang. Kok malah enggak,” tutur Danarto mengenang masa lalunya kepada Kumparan.com, Senin 6 November 2017.

Setelah masuk SMA, dia bertemu lagi dengan pelajaran yang sangat dibencinya itu. Akhirnya, setelah 28 hari bersolah dia kabur supaya tak mendapatkan kegagalan dan hukuman dari ayahnya lagi.

Kebencianya terhadap aljabar dan ketakutannya terhadap hukuman ayahnya itu membuat dia pergi ke Yogyakarta. Dari sejak itu, karirnya dalam dunia seni dia mulai.

Di tempat perantauan barunya, dia diterima sebagai mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Di sana, selain tak ada aljabar dia bisa menyalurkan bakat melukisnya. Lembaga pendidikan itu betul-betul cocok bagi Danarto.

Minatnya terhadap seni lukis sudah memang ada sejak kecil. Sebagaimana penuturannya sendiri, waktu masih kanak-kanak dia memang sering melukis di dinding dan lantai rumahnya dengan kapur dan arang.

Dia tak mengerti kenapa bakat itu dimilikinya, padahal keluarganya bukan seniman. Ibunya, Siti Aminah adalah penjual batik. Ayahnya, Jakio Harjodinomo adalah seorang mandor pabrik tebu di Sragen.

Selama berada di Yogyakarta dari 1958 s/d 1964, dia sering mengalami “krisis dompet”. Untuk dapat makan saja, dia harus berhutang. “Jadi sampai sekarang belum bisa melunasi utang-utang kami itu kepada Pak Joyo dan Bu Joyo yang sudah almarhum. Saya kira tidak mungkin terbayar, ya. Kebaikannya itu, wah, mungkin mirip orang sucilah. Tidak pernah menagih. Tulus,” kenangnya. Pak Joyo adalah pemilik warung makan yang sering dia hutangi.

Dia baru mendapatkan pekerjaan pada akhir 1969. Pada tahun itu, dia bekerja di Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi sebelumnya, 1968 karyanya cerpen “Godlob” sudah dimuat majalah Horison. Pada tahun itu, TIM lagi diresmikan.

Ketika cerpennya mulai dipublikasi, dia tak hanya dikenal sebagai pelukis. Namanya perlahan mulai diketahui publik sebagai penulis. Pada 1982, dia menerbitkan antologi cerpen keduanya, Adam Ma’rifat. Karyanya ini berhasil meraih anugerah sebagai cerita pendek terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta dan penghargaan dari Yayasan Buku Utama.

Tahun berikutnya, bukunya yang berjudul Orang Jawa Naik Haji terbit. Dalam buku itu, dia mencatat pengalamannya ketika menunaikan ibadah haji.

Pada 1986, dia menikah. Perempuan yang dia nikahi adalah Siti Zainab Luxfiati. Hubungan mereka hanya bertahan selama 15 tahun. Dan, akhirnya pasangan ini bercerai.

Namun meski sudah menikah, dia tetap produktif. Karya yang terbit selanjutnya adalah cerpen Berhala (1987), Gergasi (1996), novel Asmaraloka (1999), antologi cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000), dan Kacapiring (2008).

Selain produktif menulis, dia juga termasuk orang selalu haus pengetahuan. Dia dikenal sangat rajin belajar. “Banyak ilmu yang belum kita ketahui, yang membuat kita harus belajar, belajar, belajar–yang sebenarnya tidak terkejar umur,” pesannya kepada generasi bangsa saat ditemui Kumparan.com, 6 November 2017.

Dia melanjutkan, “Sekarang umur saya 77 tahun. Jangan-jangan besok saya sudah tidak ada, misalnya. Misalnya saya kuat 10 tahun lagi, berarti sampai 87 tahun, apa kuat saya sampai ke sana.” Namun ternyata, dia tak kuat untuk terus belajar sampai 10 tahun lagi. Lima bulan berikutnya dia harus memenuhi panggilan ajal.

Jauh sebelum meninggal, dia sempat menulis, “Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir.” (Danarto, 2008).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs