Cornelis de Houtman: Orang Belanda Pertama Yang Menginjakkan Kaki di Bumi Nusantara
TERBARU , Tokoh 13:35
0
Shares

Era 1590-an Banten berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten (1526-1813) sebagai salah satu daerah pelabuhan terpenting. Di bawah pimpinan Sultan Maulana Muhammad (1586-1596), roda perekomian dan sosial-kebudayaannya berjalan stabil. Masyarakatnya hidup damai dan tenang.

Juni 1596, mereka kedatangan tamu asing. Empat buah kapal yang ditumpangi 249 awak lengkap dengan 64 pucuk meriam tiba di pelabuhan itu. Mereka adalah para pelayar asal Belanda yang sedang melakukan ekspedisi ke Asia Tenggara.

Ketua rombongan itu adalah Cornelis de Houtman. Dia ‘lah orang Belanda pertama kali yang menginjakkan kakinya di tanah Nusantara. Dia juga sebagai pembuka gerbong awal masuknya orang-orang Belanda pada ekspedisi-ekspedisi berikutnya hingga kemudian terbentuk apa yang disebut dengan VOC.

Saat pertama kali menginjakkan kakinya di Banten, usia de Houtman 31 tahun. Dia lahir di Gouda, Holland Selantan, Belanda pada 2 April 1565. Tujuan kedatangan dia adalah melakukan perdagangan dengan cara meraup kekayaan alam yang ada di Nusantara.

Dia mengetahui bahwa Nusantara—yang waktu itu disebut Hindia—memiliki kekayaan alam berlimpah berdasarakan informasi yang didapatkan dari para pelayar Portugis yang telah melakukan ekspedisi lebih awal.

Di antara para pelayar Portugis yang berhasil mempromosikan hasil bumi Hindia, ada seseorang yang bernama Jan Huygen van Lin-schoten. Pada sekitar 1595-1596, dia menulis buku Iti-nerario naer Oost ofte Portugaels Indien (Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis). Buku itu memuat peta, temuan-temuan Portugis selama berada di Hindia, dan menyebar ke Belanda.

Tak menutup kemungkinan dari buku itu ‘lah de Houtman mendapatkan tambahan referensi mengenai Hindia. Pada tahun 1595, akhirnya dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sana, daerah yang mereka sebut sebagai “Oost,” Timur.

Ketika tiba di Banten, dia dan rombongannya terlibat konflik baik dengan orang-orang pribumi maupun orang-orang Portugis. Sebab, kedatangan dia dan rombongannya dianggap dapat menganggu roda perekonomian pihak pribumi yang berjalan stabil. Adapun Portugis menganggapnya sebagai saingan yang berbahaya.

Karena tak merasa nyaman berada di Banteng, dia ‘pun meninggalkan pelabuhan itu lalu bergeser ke arah Timur. Dia berlabuh menyusuri pantai utara Jawa. Kedatangan dia dan rombongannya itu bukan memberikan keuntungan di pihak pribumi, tetapi malah kerugian besar.

Tak heran kalau kemudian, di Sidayu mereka diserang oleh pribumi Jawa. Serangan itu mengakibatkan kerugian besar bagi pihak de Houtman. Akibat peristiwa itu, dia kehilangan dua belas anak buahnya. Akhirnya, 1597 dia kembali ke negeri asalnya dengan sisa-sisa rombongannya. Dari 4 kapal, yang bisa kembali hanya 3 dan sisa rombongannya hanya 89 orang.

Tapi meski terbilang gagal, ekspedisi yang dilakukan de Houtman menjadi pembuka pintu gerbang awal bagi para pelayar Belanda yang ingin melakukan ekspedisi berikutnya. Dengan membawa rempah-rempah dari Hindia, dia berhasil meyakinkan mereka (para ekspedisi Belanda itu).

Setelah itu, banyak orang Belanda yang melakukan pelayaran ke Hindia. Sama seperti de Houtman, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil bumi Nusantara.

Sejak tahun 1598, mulailah apa disebut dengan “pelayaran liar”. Banyak rombongan-rombongan ekspedisi mulai berdatanagn ke Hindia. Di tahun itu, ada 22 kapal yang berangkat dari Belanda.

Kapal yang pertama sampai adalah rombongannya Jacob van Neck, Maret 1599. Dia dan teman-temannya tiba di Maluku, daerah yang memang dikenal sebagai pulau rempah-rempah.

Kedatangan dia berbeda dengan de Houtman. Dia dan rombongannya diterima secara baik-baik oleh masyarakat Maluku. Mungkin, sebelumnya karena dia sudah belajar kepada apa yang terjadi atas Houtman.

Rombongannya dia ini kemudian dapat kembali dengan selamat pada tahun 1600. Mereka berhasil membawa rempah-rempah ke negerinya dengan keuntungan 400 persen.

Setelah kedatangan rombongan Jacob, berbagai rombongan lain menyusul. Sama seperti Jacob, mereka membawa pulang rempah-rempah dengan keutungan yang melimpah. 1961, tercatat ada empat belas ekspedisi yang berhasil memasarkan rempah-rempah Hindia ke Belanda.

Karena melihat banyaknya ekspedisi ke Hindia dan pulang dengan membawa keuntungan banyak, pada tahun 1598 Parlemen Belanda mengusulkan untuk membuat perserikatan di antara para ekspedisi dan perseroan-perseoran yang saling bersaing. Tapi usulan itu awalnya tak mendapatkan respon. Butuh empat tahun untuk ditanggapi.

Akhirnya, pada bulan Maret 1602, perseroan-perseroan yang saling bersaing itu menanggapi usulan Parlemen Belanda. Mereka membentuk perserikatan yang dikenal dengan Vereenig-de Oost-Indische Compagnie (VOC).

Dari sejak itu ‘lah melalui VOC, perkembangan pedagangan hasil bumi Hindia yang dimonopoli oleh para ekspedisi dari Belanda semakin meningkat pesat. Dan, dari sejak itu pula, nasib bangsa Nusantara berubah. Mereka memasuki masa “paceklik” selama kurun waktu yang panjang. (Ricklef, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, 2007).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs