“Cinta Terlarang” Sutan Sjahrir
TERBARU , Tokoh 16:23
0
Shares

Pada akhir musim panas 1929, Sutan Sjahrir tiba di Belanda. Tujuan kedatangannya di negeri kincir angin itu untuk melanjutkan pendidikan. Dia mengambil studi di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam.

Namun di samping belajar, ternyata dia juga terlibat sebuah akrobat percintaan yang teramat rumit. Kejadian itu berawal semenjak dia mengenal seorang perempuan bernama Maria Johanna Duchateau. Dalam bukunya, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (1994), Rudolf Mrazek—seorang penulis asal Ceko—menceritakan kembali kisah jalinan asmara di antara mereka.

Sesampainya di Amsterdam, Sjahrir numpang di rumah kakak perempuannya, Dokter Djoehana dan Sjahrizal. Selama berada di negeri rantauan, sebagai aktivis politik dia tak pernah melupakan semangat pergerakan. Dia justru semakin mendalami apa yang pernah digeluti bersama kawan-kawannya di Hindia-Belanda, negeri asalnya.

Dia sangat tertarik pada sosialisme. Ketertarikannya pada ideologi ini membuat dia mengenal Salomom “Sal” Tas, ketua komunitas mahasiswa sosial-demokrat Amsterdam. Baru beberapa hari tinggal di rumah kakaknya, dia langsung mengirim surat kepada aktivis sosialis itu.

Setelah menerima surat tersebut, Sal Tas lantas bertandang ke rumah tempat Sjahrir tinggal. Tatkala bertemu, mereka berbincang banyak hal. Sejak itulah, Sal Tas mengetahui siapa Sjahrir dan di mana tinggalnya. Hubungan mereka ‘pun akrab.

Keakraban mereka kelak dapat menolong nasib Sjahrir. Dua tahun berikutnya, 1931 keluarga Djoehana meninggalkan Belanda. Lantaran kepergian kakaknya, Sjahrir tak lagi punya tempat tinggal.

Meski demikian, dia tak harus menanggung hidup seorang sendiri. Dia dibantu oleh teman akrabnya. Sal Tas mengajak Sjahrir untuk tinggal bersama di rumahnya.

Rumah yang dia tawarkan tak terlalu besar tapi penghuninya cukup banyak. Di rumah itu Sal Tas tak tinggal sendiri. Dia ditemani oleh istri, dua anak, dan seorang perempuan bernama Judith van Wamel.

Sejak tinggal di rumah itulah, Sjahrir mulai semakin akrab dengan Maria Johanna Duchateau. Karena perempuan cantik itu tak lain adalah istri Sal Tas.

Di akhir 1931, hubungan mereka semakin mencurigakan sampai-sampai membuat panggilan khusus. “Sidi”, demikian ucap Maria ketika memanggil Sjahrir. Sebaliknya, Sjahrir memanggil “Mieske” untuk Maria.

Mengetahui hubungan mereka, Sal Tas menyikapinya dengan biasa. Karena hubungannya dengan Nyonya Maria belakang memang sudah tak harmonis. Bahkan, Nyonya Maria ‘pun telah tahu kalau suaminya—si Sal Tas itu—punya hubungan khusus dengan Judith, perempuan yang juga tinggal serumah.

Mereka satu sama lain saling membiarkan. Nyonya Maria membiarkan suaminya berhubungan dengan Judith. Begitupun dengan Sal Tas. Dia membiarkan istrinya menjalin perasaan khusus dengan Sjahrir.

Benih asmara yang tertanam di hati Maria tak pupus begitu saja, meski Sjahrir pada bulan November 1931 pulang ke tanah airnya. Kepergian Sjahrir tak membuat Maria putus asa.

Walaupun terpisah jarak, dia tetap menjalin komunikasi dengan kekasihnya melalui surat. Karena tak tahan, dia nekat mengejar lelaki idamannya itu hingga ke Hindia Belanda.

Empat bulan setelah Sjahrir menetap di Batavia, April 1932 perempuan itu menyusul. Dia menaiki kapal dan berlabuh di Medan. Mendapatkan kabar itu, dari Batavia Sjahrir langsung segera menyusul kekasihnya ke Medan.

Lantaran sama-sama kasmaran, pada 10 April mereka menikah. Upacaranya berlangsung di salah satu Masjid yang berada di Medan.

Namun pernikahan mereka tak lama. Sebagai suami-istri, mereka bisa bertahan hanya lima minggu. Sebab hubungan mereka membuat orang-orang Eropa rasis yang berada di Medan tak senang.

Jalinan asmara dua ras berbeda ini tersebar luas. De Sumatra Post (13 Mei 1932) pernah meliputnya dengan judul, “Wanita Makai Sarung dan Kabaya, di Bawah Pengawasan Polisi“. Setelah menikah dengan Sjahrir, Maria memang kerap mengenakan pakaian Nusantara ketika keluar rumah.

Lantaran berita itu viral dan pernikahan mereka dianggap “tabu”, isu baru dimunculkan. Maria diketahui belum cerai resmi dengan Sal Tas dan pernikahannya dengan Sjahrir ‘pun dianggap tak sah.

Mari akhirnya dideportasi ke Belanda. Tapi dia terus mencari akal untuk dapat menemui Sjahrir kembali. Berbagai usaha dia lakukan termasuk menyurati Ratu Belanda. Namun permintaannya ditolak.

Di lain sisi, saat hendak menyusul Maria ke Belanda, Sjahrir ditangkap dengan alasan politis. Empat bulan dia terkurung di penjara Cipinang. Tiket kapal SS Aramis yang dipesannya ‘pun hangus.

Lagi-lagi mereka terpisah oleh jarak. Dan, hanya surat yang dapat membantu mereka untuk tetap menjalin hubungan. Rutin, selama satu bulan Sjahrir kirim surat ke Maria sebanyak lima kali.

Pada 16 November 1934, pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan keputusan bahwa lima pimpinan PNI harus diasingkan. Salah satunya adalah Sjahrir. Dia dibuang ke Boven Digoel.

Selama berada di sana, dia tak lagi terlibat aktivitas politik dan menulis kritik-kritik tajam. Rupanya, dia membuat kesepakatan khusus dengan pemerintah.

Dia berjanji untuk tak provokatif lagi selama pemerintah menjamin kelancaran aktivitas surat-menyuratnya dengan Maria. Pertanjian itu terwujud. Pemerintah memberinya 7,5 gulden untuk biaya surat-menyurat dengan Maria.

Namun surat-suratan itu terhenti, ketika Perang Dunia II meletus. Sebab, Nazi Jerman menyerang Belanda. Saat terjadi Depresi Ekonomi dunia pada tahun 1930-an, Sjahrir meminta Sjahsam–adiknya sendiri–untuk membantu Maria.

Karena Sjahrir kecantol dan lebih memilih gadis lain, kelak, Sjahsam ‘lah yang menjadi suami Maria. Awalnya, Maria kecewa karena tak bisa menjalani hidup dengan Sjahrir dan ingin membakar surat-surat kenangannya.

Namun Sjahsam melarang dan menyuruh istrinya untuk membukannya saja. Surat-surat itu akhirnya kelak dibukukan menjadi buku, Indonesische Overpeinzingen (1945).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs