Cerita Bung Hatta di “Rumah Setan”
TERBARU , Tokoh 20:29
0
Shares

Dalam buku, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi , Bung Hatta menulis kisah dirinya yang pernah menempati sebuah rumah ketika dalam masa pembuangan di Banda Neira, Maluku. Rumah itu dikenal sebagai “rumah setan”.

November 1935, Pemerintah Hindia Belanda memindahkannya sebagai tahanan politik dari Boven Digul (Tanah Merah) ke Banda Neira. Selain dia, juga ada Sjahrir. Setelah sekian hari berada di sana, mereka menyewa sebuah rumah untuk dijadikan tempat tinggal.

Rumah yang mereka sewa adalah milik Tuan De Vries, sebuah rumah yang cukup luas dan besar. Lokasinya tak jauh dari kantor Gezaghebber, kepala pemerintahan setempat, yakni berjarak sekitar 100 meter.

Untuk dapat menempati rumah tersebut, mereka harus mengeluarkan uang sebesar 12,50 gulden per bulan sebagai biaya sewa. Untuk menata ruang, mereka dibantu banyak orang, salah satunya adalah keluarga Iwa Kusuma Sumantri.

Pihak keluarga itu membantu mereka mencarikan orang yang dapat memasang perlengkapan rumah—seperti kain pintu, lampu gas, dan kain jendela—dan yang bersedia menjadi pelayan. Ketika semuanya selesai, mereka langsung menempati rumah itu.

Tapi tak lama, Bung Hatta harus pindah. Karena rumah itu akan ditempati sendiri oleh De Vries. Mau tak mau, dia mencari rumah baru yang bisa disewakan. Setelah mencarinya, dia menemukan sebuah rumah kosong. Lokasinya tak jauh dari rumah tempat awal dia tinggal itu.

Rumah yang akan disewakan itu adalah milik sebuah keluarga yang berasal dari Ambon. Dia membayar uang sewa per bulan sebesar 10 gulden.

Setelah dua atau tiga hari dia menempatinya, datang seorang keturunan Arab menemuinya. Orang itu bertanya kepada Hatta tentang kejadian yang dialami setelah tinggal di situ. Soalnya, kabar yang menyebar rumah itu ada setannya. Konon beritanya, di dalam rumah itu sering ditemukan “hantu” peti mati berwarna hitam di bagian tengah rumah.

Hatta menjawab secara jujur, tak ada apa-apa. Dia sama sekali tak terganggu oleh apapun, apalagi oleh setan. “Setan yang dikatakan menghuni rumah ini sudah kusuruh pergi ke belakang benteng,” katanya.

Mendapati perkataan Hatta, orang itu ketakutan. Dia takut setan itu malah mengganggu keluarganya. “Itu tidak akan terjadi asal Tuan sekeluarga apabila mau tidur membaca ayatul kursi dan setan itu pun tidak akan berani mengganggu Tuan sekeluarga,” Hatta memberi nasehat kepada orang itu.

Di tengah suasana takut, Hatta malah bercanda. Dia bilang, “Cuma, tadi malam aku tersentak dari tidur nyenyak karena keributan di jalan besar di muka rumah. Akan tetapi, keributan itu tidak disebabkan oleh setan, malahan disebabkan oleh orang-orang yang lewat, yang baru saja pulang dari menonton bioskop di pasar.” Orang itu yang awalnya takut ketika mendengar perkataan Hatta malah tertawa.

Memang sebelum menempati rumah itu, dia sering dinasehati teman-temannya. Mereka bilang kepadanya kalau rumah itu adalah “rumah setan” dan tak baik untuk ditempati.

Tapi dia tetap bersikukuh untuk menempatinya dan tak percaya cerita seperti itu. Terbukti, dia dapat membuktikannya bahwa rumah itu, aman. Hatta memang orang yang dikenal tak percaya hal-hal semacam itu.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id