Bung Tomo Naik Haji
TERBARU , Tokoh 18:20
0
Shares

Tahun 1981 (1401 H), Bung Tomo, pahlawan yang populer dengan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya itu berangkat ke Makkah. Ia ingin menunaikan ibadah haji bersama dua putri dan istrinya, Sulistiana. Dia berangkat dari Pondok Gede.

Sebelum keberangkatannya, dia diminta jemaah yang juga hendak ke Mekkah untuk menjadi ketua kloter mereka. Bung Tomo harus siap. Dia berangkat dengan nomor 50.A. Adapun nomor pesawat yang dia tumpangi adalah GA.1102.

Setelah pesawat take-off dan mulai meninggalkan bandara Halim Perdana Kusuma, di atas udara, Bung Tomo diminta oleh para jamaah untuk memberikan ceramah. Bung Tomo, sekali lagi mau tak mau harus menyanggupinya.

Dengan gagah dan muka yang berseri-seri, seperti tampak masih tiga puluh tahun yang lalu, dia berdiri dan mengucapkan “assalamu’alaikum” dengan gaya khasnya. Orang pemiliki nama Soetomo itu berceramah. Para jamaah yang tadinya ada yang terkesima melihat awan di luar, dan ada yang tidur, ketika mendengar suara Bung Tomo, langsung membenarkan posisi. Mereka menyimak ceramah pahlawan revolusi itu. Dia berceramah cukup lama, dari pukul 12.05 sampai dengan 12.16 WIB.

Setelah sampai di bandara King Abdul Aziz, Bung Tomo sibuk mengatur jamaahnya. Sementara keluarganya menunggunya di ruang tunggu. Setelah itu, dia bersama sekitar lima puluh jemaah lain menaiki bus menuju Makkah. Tapi, sesampainya di Makkah, di antara mereka tak ada satu ‘pun orang yang tahu di mana tempat penginapan mereka, yakni rumah seorang syekh di sana.

Bung Tomo dan para jamaah ‘pun bingung. Kebingungan mereka ini terus berlangsung hingga tengah malam. Sampai akhirnya bertemu dengan seorang pemuda Indonesia yang berbahasa Madura. Orang itu menunjukkan kepada Bung Tomo di mana rumah syekh yang dimaksud. Akhirnya masalah ‘pun terpecahkan.

Selama di Arab, Bung Tomo sangat rajin beribadah. Dia sering ikut salat berjamaah di Masjid al-Haram. Tapi, setelah beberapa hari di sana, dia sakit parah. Dia ‘pun dibawa ke rumah sakit Al-Muhaidi. Selama perjalanan menuju rumah sakit dengan ambulance, dia membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat yang dibacanya adalah “inná shalati wa nusuki wa mahyayya wa mamati…”.

Di rumah sakit, Bung Tomo sempat dirawat inap. Tapi tak lama, hanya satu hari. Keesokan harinya, 2 Oktober 1981 dia boleh pulang. Dari rumah sakit, dia ke hotelnya yang baru, Zam Zam, dengan kamar yang lebih luas. Setelah sampai di hotelnya, sore harinya Bung Tomo bisa mengikuti salat berjamaah ashar dan maghrib. Tapi setelah isya, kondisinya semakin memburuk hingga dia pingsan. Akhirnya, dia dibawa kembali ke rumah sakit. Waktu itu, 3 Oktober adalah hari ulang tahunnya yang ke-61.

Saat sudah berada di rumah sakit, Bung Tomo memanggil anaknya yang bungsu, Nana. Waktu itu, Nana merupakan mahasiswi tingkat tiga jurusan psikologi. Nana ‘pun datang. Setelah di sampingnya, Bung Tomo berpesan kepada anaknya, “Kalau kau nanti menjadi seorang sarjana, jadilah sarjana muslimah! Jadilah kau psikolog muslimah!” Empat hari setelah berpesan seperti itu kepada Nana, Bung Tomo menghembuskan napas terakhirnya. 7 Oktober 1981 pahlawan revolusi itu meninggal di Jeddah.

Sulistiana tak sempat menyaksikan hembusan napas terakhir suaminya itu. Saat itu, dia sedang berada di Arafah. Di tengah-tengah teriknya panas matahari, dia bersama para jamaah haji yang lain memanjatkan doa. Kemudian tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mencari Ibu Soetomo itu. “Di mana Ibu Soetomo  dan anak-anaknya?” katanya. Rupanya orang itu hendak mengabarkan kepada Sulistiana dan dua putrinya itu, kalau Bung Tomo baru saja meninggal dunia.

Sulistiana mencoba menahan diri dan sabar. Walaupun hari itu dia terlibat kesedihan yang mendalam. Dia melihat ke atas, langit terang, udara segar, dan sama sekali tak ada ciri-ciri akan hujan. Tapi, tiba-tiba terdengar suara petir keras menyambar. Orang-orang yang bermukin di Sahara ‘pun terkejut. “Selama saya di Saudi Arabi,a belum pernah saya mendengar bunyi petir di tengah-tengah matahari yang begitu terik,” kata Ibu Hadi Tayeb, istri duta besar. “Rupanya alam ‘pun ikut menembakkan salvonya untuk Bung Tomo,” kenang keluarganya sebagaimana yang terekam dalam buku Selamat Jalan Bung Tomo (penyunting: Hamdy El. Gumanti).

Janazah Bung Tomo dibawa pulang ke Jakarta, lalu 3 Februari 1982 dibawa kembali ke Surabaya untuk dimakamkan. Beliau dimakamkan secara militer di tempat pemakaman umum Ngagel Rejo. (Sumber: Hamdy El. Gumanti, Selamat Jalan Bung Tomo, Aksara Agung Jakarta)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs