Bung Karno dan “Ilham” Pancasila di Bawah Pohon Sukun
TERBARU , Tokoh 01:17
0
Shares

SejarahRI.com – Indonesia mempunyai sebuah ideologi sakti sebagai sendi konstitusinya, yakni Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila tak lahir secara tiba-tiba. Ia mengalami proses panjang untuk sampai menjadi sebuah ideologi bangsa kesatuan.

Salah satu orang yang berkontribusi besar terhadap lahirnya ideologi yang memiliki lima butir tersebut adalah Bung Karno. Pada saat sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, BPUPK), 1 Juni 1945 berlangsung, Bung Karno berpidato.

Dalam pidatonya, dia menyampaikan konsep dan rumusan awal sebuah ideologi yang disebut Pancasila. Pidato itu kemudian diberi judul “Lahirnya Pancasila” oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat, mantan Ketua BPUPK. Karena, sejak itulah gagasan tentang Pancasila kali pertama didengungkan oleh Bung Karno.

Namun sebenarnya, Bung Karno memikirkan itu jauh-jauh hari. “Aku telah 16 tahun mempersiapkan apa yang hendak kukatakan. Dalam ‘kuburanku’ yang gelap di Banceuy, prinsip-prinsip yang akan menjadi dasar dari republik sudah mulai tampak dalam pikiranku,” ucap Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Banceuy adalah tempat Bung Karno mendekam dalam penjara bersama para pejuang lainnya sejak Desember 1929. Di dikirim ke sana karena dianggap mengganggu stabilitas pemerintahan Hindia-Belanda.

Setelah dari Banceuy, Bung Karno dikirim ke Penjara Sukamiskin. Di situ dia membacakan sebuah pledoi terkenal, Indonesia Menggugat. Kemudian pada 14 Januari 1934 dia diasingkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur.

Hukuman yang harus dia jalani di sana cukup lama yakni sampai 18 Oktober 1938. Dia diajuhkan dari keramaian dan aktivitas politik apapun.

Bung Karno benar-benar “dikebiri”. Setiap hari, dia harus melapor ke pos militer Belanda yang berada di Ende Utara; sebuah pos yang sekarang jadi Kantor Detasemen Polisi Militer IX/I.

Namun Bung Karno tak kalah akal. Untuk menghilangkan kejenuhan dia sering berkunjung ke warga setempat. Salah satu teman akrab Bung Karno adalah Gerardus Huijtink. Dia adalah Pastor Paroki Ende.

Walaupu Bung Karno mudah akrab dengan siapapun, namanya sedang diasingkan, dia tetap merasa kesepian. Di tengah kesepian dia sering menghabiskan waktunya untuk merenungkan nasib bangsanya.

Dia sering melakukan refleksi itu di bawah sebuah pohon sukun. Dan, di situlah dia mendapatkan secara lebih jelas apa yang kelak disebut dengan Pancasila.

Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Aku tidak mengatakan aku yang menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah,” tutur Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Dari itu tak heran bila sekarang di Ende dapat ditemui sebuah Taman Renungan Bung Karno di Kelurahan Rukun Lima. Di taman itu terdapat Patung Bung Karno duduk menatap laut nampak sedang merenung di bawah pohon sukun bercabang lima.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs