Batik Maos: Sandi Perang Diponegoro
Serba-Serbi , TERBARU 17:50
0
Shares

Batik merupakan salah satu kekayaan seni rupa di Indonesia. Desainnya amat beragam. Di antara sekian banyak motif, ada satu batik yang sangat unik, yakni Batik Maos.

Batik ini memiliki sejarah panjang dan kandungan filosofis. Sebagaimana diwartakan oleh Republika.co.id (02 Oktober 2017), Batik Maos “menampilkan sandi perang laskar Pangeran Diponegoro.” Dan, sudah dibuat sejak abad ke-19.

Beberapa motif batik maos menjadi sandi perang yang maknanya tak diketahui oleh penjajah,” tuter Euis Rohaini–pendiri Batik Maos Rajasa Mas di Cilacap, Jawa Tengah–kepada Tempo, Minggu 1 Oktober 2017

Untuk membuatnya, para pengrajin biasanya menggunakan teknik pewarnaan alam. Warna yang sering dipoleskan, di samping warna-warna klasik—seperti cokelat, putih, dan hitam—juga warna-warna terang, yakni kuning, biru, dan hijau.

Sejumlah sandi Perang Diponegoro yang masih dijadikan motif batik ini sampai sekarang adalah Galaran, Buntal Gabahan, Cebong Kumpul (Cuplik Pring), Kembang Ambring, Lar Buntal, Andaindi, Blarak Sineret, dan Rujak Sente. Bagaimana gambaran motif itu?

Glaran
Glaran merupakan salah satu bentuk motif Batik Maos. Motif ini merupakan simbol dan sekaligus memiliki makna tata prajurit yang sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi untuk bersiap-siap melawan musuh. Formasi pasukan semacam ini merupakan bentuk formasi perang tradisional.

Buntal Gabahan
Dalam setiap perang selalu ada jebakan-jebakan. Salah satunya adalah ranjau. Nah, Buntal Gabahan, merupakan simbol untuk itu. Ia memiliki makna sandi ranjau. Rajau ini biasanya dipasang pada pematang sawah. Tujuannya adalah untuk mengecoh kekuatan lawan.

Cebong Kumpul (Cuplik Pring)
Cebong Kumpul, memiliki arti supaya para prajurit segera berkumpul dan merapatkan barisan tatakala perang hendak dimulai. Untuk menghadapi musuh, memang dalam sebuah perang diperlukan kekompakan dan persatuan. Oleh karena itu, makna cebong kumpul secara luas adalah pentingnya pesatuan.

Kembang Ambring
Makna Kembang Ambring, hamir sama dengan Cebong Kumpul yakni sama-sama memiliki arti bahwa persatuan para prajurit dalam sebuah peperangan itu sangat penting. Bagaimana mungkin akan dapat mengalahkan musuh bila pasukan saja bercerai berai. Makna ini sejalan dengan pepatah, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Lar Buntal
Adapun Lar Buntal adalah simbol yang memiliki makna sebagai misi pembagian tugas dan wilayah. Memang selain persatuan, yang dibutuhkan dalam sebuah peperangan adalah teknik pembagian misi. Pasukan tak memulu ditempatkan dalam satu titik, tetapi dipencar-pencar sesuai tuga.

Andaindi
Namun dalam pembagian tugas mesti juga dilihat tingkatan stuktur dan keahlian prajurit. Para prejurit bagian tempur depan tak mungkin ditempatkan di belakang. Begitupun sebaliknya. Ini makna dari Andaindi.

Blarak Sineret
Selain pembagian tugas dan persatuan, yang penting juga diperhatikan dalam pertempuran adalah melibatkan banyak pihak yang sekiranya dapat mendukung kemengang. Nah, pelibatan banyak pihak ini disimbolkan dengan Blarak Sineret. Karena ternyata dalam peperangan, kemengan dapat dicapai bukan oleh satu pihak saja tapi juga lantaran dukungan dari berbagai pihak lain.

Rujak Sente
Terakhir adalah Rujak Sente. Simbol ini bermakna sebagai ketegasan seorang pemimpin. Untuk dapat melawan musuh, pemimpin perang harus memiliki ketegasan. Dalam ketegasan itu juga terdapat kedisiplinan, kepandaian dan ketangkasan.

Demikian kandungan filosofis yang terkandung dalam Batik Maos. Untuk mendapatkan batik tersebut dapat mengunjungi sentra produksi yang ada di Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Batik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis asing.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id