Asal Mula “Kampung Inggris” di Indonesia
Tempat , TERBARU 22:14
0
Shares

SejarahRI.com – “Modjokuto, kota kecil di Jawa Timur… Perjalanan setengah hari dari Surabaya … Sebuah pusat perdagangan, pendidikan, dan administrasi untuk delalapan desa di sekitarnya, kota tersebut memiliki populasi sekitar 20,000, yang terdiri dari 18,000 orang Jawa, 1,800 China, dan sisanya orang Arab, India, dan minoritas lainnya (terjemah, Red).Demikian antropolog Amerika itu, Clifford Geertz menggambarkan Kota Pare pada era 1960-an dalam The Religion of Java.

Dia menyebut Pare sebagai Modjokuto (atau, Mojokuto) bukan tanpa alasan. Menurut Ben White—dalam artikelnya “Betting on the Middle? Middletown, Mojokuto and ‘Middle Indonesia” yang dimuat dalam buku In Search of Middle Indonesia: Middle Classes in Provincial Towns (2014)—penyebutan itu merupakan pengaruh dari diskursus Middletown, salah satu kajian penting dalam disiplin antropologi yang tokoh populernya adalah Robert S. Lynd dan Helen Merrel Lynd yang menelurkan karya, Middletown: A Study in Contemporary American Culture (1929).

Ben menulis, “Keputasan Geertz dan para koleganya di MIT proyek Indonesia untuk menyebut basis penelitian mereka sebagai ‘Modjokuto’ adalah sebuah bentuk kesepakatan terhadap kedua Lynd itu (terjemah, Red).” Jadi, ketika menemukan kata “Mojokuto” dalam berbagai penelitian Geertz, kota yang dimaksud sejatinya adalah Pare.

Di kota ini, Geertz punya cerita menarik. Di tengah kesibukan melakukan riset lapangan (etnografis), dia bertemu dengan seorang pria asal Kalimantan Barat bernama Kalend Osein. Kalau menggunakan kerangka teorinya sendiri, Geertz akan memasukkan Kalend sebagai varian masyarakat santri. Karena Kalend adalah muslim yang taat menjalankan aturan-aturan dan norma Islam.

Dalam bukunya, After the Fact: Two Countries, Four Decades, One Anthropologist (1995), Geertz menulis, “Dia mendirikan madrasah…Dan dia mengajarkan studi bahasa Inggris secara sungguh-sungguh.” Madrasah yang didirikan oleh Kalend inilah yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya “Kampung Inggris” di Pare.

Kisah pembentukan “Kampung Inggris” ini berawal pada tahun 1976. Mulanya, Kalend, pria kelahiran 4 Pebruari 1945 itu belajar Islam di Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Ketika memasuki kelas lima, dia tak bisa melanjutkan studinya lantaran kendala ekonomi. Untuk kembali ke kampung halamannya ‘pun tak bisa.

Akhirnya, dia terpaksa harus tetap tinggal di Jawa. Di tengah kebingunan, dia diberitahu oleh salah satu temannya bahwa di Pare ada seorang kyai yang menguasai delapan bahasa. Namanya, K.H. Ahmad Yazid yang tinggal di Desa Singgahan.

Kalend tertarik untuk belajar ke sana. Setelah sampai di Pesantren Darul Falah asuhan Kyai Yazid itu, dia kembali dapat mengenyam pendidikan bersama para santri lainnya. Pada suatu kesempatan, ada dua orang bertandang ke pesantren tersebut. Tamu itu adalah dua mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mendalami bahasa Inggris demi persiapan ujian kampus.

Tapi sayang, kyai sedang keluar pergi ke Majalengka. Sehingga kedua tamu itu ditemui oleh Nyai Yazid. Setelah menyampaikan keperluannya, Nyai Yazid menyuruh mereka untuk belajar kepada Kalend. Mungkin Nyai Yazid sudah memahami kalau Kalend memang mahir berbahasa Inggris.

Kedua mahasiswa itupun nurut dan mendatangi Kalend yang sedang menyapu halaman. “Waktu itu saya sedang menyapu masjid dan dua mahasiwa itu menghampiri saya,” tutur Kalend kepada Kompas.com (13 Mei 2012) mengenang masa lalunya.

Seteleh bertemu, mereka menyodorkan lembaran kertas berisi 350 soal berbahasa Inggris. Kalend penasaran, lalu melihatnya. Setelah membacanya, dia meyakinkan kepada mereka dapat menjawab soal itu hingga lebih dari 60 persen. Dan betul, Kalend bisa mengerjakannya.

Dari situlah kemampuannya yang langka kala itu mulai ketahuan. Dia mengajar mereka selama lima hari saja secara intensif. Setelah selesai belajar, dua mahasiswa itu menyebarkan informasi tentang Kalend kepada rekan-rekannya di IAIN.

Hari demi hari, banyak orang tertarik belajar bahasa Inggris kepada Kalend. Pada 15 Juni 1977, dia mendirikan Basic English Cours (BEC), yang oleh Geertz disebut sebagai “madrasah” itu. Geertz (1995) menulis, “Pada Idul Fitri 1986, hari raya yang menandai berakhirnya bulan puasa umat Muslim, madrasah tersebut menyelenggarakan “acara wisuda” tahunan yang ketiga untuk lima belas atau dua puluh orang yang berhasil menyelesaikan kursus bahasa Inggris.”

Madrasah inilah yang kelak menjadi “embrio” terbentuknya “Kampung Inggris” yang berada di Desa Pelem dan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu. Sampai sekarang kampung ini terkenal sebagai pusat studi bahasa Inggris di Indonesia dan diserbu oleh ragam kalangan dari berbagai “kelas” dan daerah.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs