Adinegoro: Pelopor Jurnalistik Indonesia yang Idealis dan Sederhana
TERBARU , Tokoh 13:52
0
Shares

23 Agustus sampai dengan 2 November 1949, sebuah konferensi akbar diadakan di Den Haaq, Belanda. Konferensi itu kemudian dikenal dengan “Konferensi Meja Bundar”. Ketua delegasi dari pihak Indonesia adalah Mohammad Hatta, dan Maarseveen dari pihak Belanda.

Berbagai media di dunia meliputnya. Namun bagaimana dengan media Indonesia waktu itu? Ada tiga media besar dari Indonesia yang juga turut meliput konferensi itu. Yakni, Antara, Kedaoelatan Rakjat, dan Mimbar Indonesia. Para wartawan yang diutus ketiga media itu adalah Sukrisno, Madikin Wonohito, dan Djamaluddin Adinegoro.

Dari ketiga nama wartawan itu, Adinegoro ‘lah yang kemudian dikenal sebagai pelopor jurnalistik Indonesia. Karena dia merupakan anak bangsa pertama yang turut mengembangkan ilmu-ilmu jurnalistik di Tanah Air. Kisahnya menjadi pelopor kaum wartawan berawal dari keberangkatannya ke Eropa. Begini kisahnya.

Pertengahan 1926, Djamaluddin Adinegoro genap berusia 22 tahun. Waktu itu, lelaki kelahiran Talawi, Sumatera Barat 14 Agustus 1904 itu mendatangi pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di dermaga itu, dia menunggu jadwal keberangkatan kapal Tambora: sebuah kapal pesiar kepunyaan maskapai pelayaran Belanda, Rotterdamse Lloyd.

Dengan kapal itulah, hari itu dia meninggalkan Tanah Air menuju daratan Eropa. Perjalanan yang dia tempuh memakan waktu tiga minggu. Kapal Tambora akhirnya sampai dengan di pelabuhan Marseille, Prancis. Adinegoro turun di sana, lalu naik kereta api melanjutkan perjalannya ke Paris. Lalu dia keliling Eropa, mulai dari Nederland hingga Jerman, dan bahkan sempat juga mengunjungi Yunani.

Di Belanda dan Jerman itulah dia mendapatkan banyak pelajaran tentang ilmu-ilmu jurnalistik. Dia berkelana sembari menimba ilmu di Eropa selama kurang lebih empat musim dingin. Setelah kepulangannya pada pertengahan 1931, dia tidak kembali ke Medan, tempat kelahirannya. Tapi langsung menuju Jakarta. Sebab, di kota itu dia sudah membangun jaringan dengan penerbit Pandji Pusaka, sebuah penerbit yang berada di bawah naungan Balai Pustaka milik pemerintah yang didirikan pada Juli 1917. Di Balai Pustaka itu, kemudian dia diangkat menjadi wartawan.

Selain dengan Balai Pustaka, dia juga sempat membuat jaringan dengan koran Bintang Timoer yang juga berada di Jakarta. Karena, beberapa kali dia sempat mengirim tulisan ke sana.

Namun, meski dapat tawaran dari Parada Harahap untuk berkerja di koran itu, dia tak mengambilnya. Karena menurut istrinya kemudian hari, Adinegoro kurang cocok dengan Parada Harap, orang penting dalam Bintang Timoer itu. Adinegoro khawatir Parada terlalu ikut campur.

Tak lama berada di Jakarta, kira-kira hanya setengah tahun, dia mendapatkan tawaran dari surat kabar Pewarta Deli yang berada di Medan. Dia ‘pun mengambil tawaran itu dan pindah ke Medan. Di surat kabar itu, dia sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi. Keputusaan itupun mengundang amarah Parada Harap sehingga waktu itu menuangkan kemarahannya kepada Adinegoro lewat korannya, Bintang Timoer.

Tapi dia tak menghiraukan semua itu. Dia tetap bekerja di Pewarta Deli dan terus mengembangkan koran itu dengan ilmu-ilmu yang dia pelajari selama di Eropa. Adinegoro terbilang sukses.

Adinegoro seorang idealis dengan gaya hidup sederhana. Dia pergi ke kantornya, Pewarta Deli, selalu naik sepeda. Berangkat pagi dan pulang sore. Dia, kata istrinya, tak suka memikirkan uang. Dia lebih suka membaca buku. Dia suka melahap banyak buku-buku, mulai dari filsafat, keagamaan, teosofi, sejarah, dan lain-lain. Ketika sedang membaca, dia sama sekali tak mau diganggu.

Karena kegigihannya, karirnya terus meningkat. Selain Pewarta Deli, dia juga mengemudikan majalah mingguan Abad XX. Pada 1941, dia merupakan salah satu wartawan yang diutus secara khusus oleh pemerintahan Hindia-Belanda untuk berkunjung ke Australia, bersama dua orang kawan lainnya dari Jawa, Sumanang dan Sumatro. Dan, pada setelah kemerdekaan nanti dia memimpin Mimbar Indonesia dari tahun 1948-1950. Melalui majalah itulah kemudian dia meliput Konferensi Meja Bundar.

Selanjutnya, dia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951); sejak 1953 sampai 1966, dia menjabat komisaris utama dalam PT. Gungung Agung, sebuah perusahaan penerbitan dan pengimpor buku-buku; dan kemudian sampai akhir hayatnya dia bekerja di Kantor Berita Nasional.

Dia sendiri meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967: dua tahun setelah peristiwa G30S meletus di Jakarta. Waktu peristiwa itu meletus, Adinegoro sudah berumur 63 tahun. Dia tak sehat lagi seperti masih muda. Tubuhnya sudah mulai sakit-sakitan. Beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan tujuh jenderal itu, dia ikut rapat di gedung koran Antara, Jl. Antara 57. Dalam rapat itu, salah satu dewan pimpinannya, Soeroto yang dikenal sebagai orang komunis berbicara di depan para wartawan yang merupakan karyawannya. Dia menyampaikan bahwa tragedi meninggalnya tujuh jenderal itu dalam revolusi merupakan peristiswa biasa-biasa saja.

Mendengarkan pernyataan Soeroto, Adinegoro langsung berkata, “Saudara, saudara. Saya berpendapat meninggalnya tujuh orang jenderal sekaligus bukanlah hal yang biasa. Saya ulangi, bukanlah hal yang biasa. Sekian saja”. Soeroto terdiam dan rapat ‘pun bubar dengan sendirinya. Wartawan pulang dengan masing-masing pertanyaan di kepala.

Hari demi hari, Adinegoro samakin melemah. Beberapa kali harus dirawat d RS St. Carolus, Jakarta. Dan, pada akhirnya wartawan senior itu, sang pelopor jurnalistik itu wafat. Dia semayamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta.

Karya-karya yang pernah dia terbitnya di antaranya adalah Revolusi dan Kebudayaan (1954), Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954), Ilmu Karang Mengarang, Falsafah Ratu Dunia. Demikian buku-buku non-fiksinya. Adapun buku fiksinya yaitu novel Darah Muda (1931), Asmara Jaya (1932), Melawat ke Barat (1987). Dan tentu masih banyak karya-karya lainnya. Seperti cerita-cerita pendek, “Lukisan Rumah Kami; Bayati es Kopyor; Etsuko; dan Nyanyian Bulan April. (Sumber: Soebagijo, Adinegoro: Pelopor Jurnalistik Indonesia, 1987)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs