8 Pekerjaan Tan Malaka
Uncategorized 22:56
0
Shares

Siapa yang tak kenal Tan Malaka? Lelaki dengan wajah sederhana, tubuh pendek, kurus, tetapi memiliki semangat juang dan kecerdasan yang luar biasa. Pahlawan yang suaranya lebih kencang dari dalam kubur. Penulis karya Madilog yang menjadi pegangan dalam berpikir logis dan kebanggaan negeri ini.

Lelaki dengan 23 nama samaran itu juga penulis karya Massa Actie. Sebuah buku yang berhasil menginspirasi Bung Karno, dan bahkan juga Rudolf Supratman. Selain itu, lelaki yang menguasai 8 bahasa itu juga merupakan penulis Menuju Republik Indonesia (1925) yang merupakan karya tentang konsep-konsep Indonesia, jauh sebelum negara ini sendiri terbentuk.

Namun, yang juga tak boleh dilupakan adalah sosok Tan sebagai pekerja keras dan pekerja cerdas. Ia giat bekerja dan memilih pekerjaan yang cerdas dan mencerdaskan. Inilah 8 pekerjaan yang pernah dilakoninya seperti dimuat dalam Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan (2010).

  1. Guru sekolah dan mandor kebun teh di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1919-1920.
  2. Guru sekolah rakyat di Semarang, Pekalongan, Bandung, dan Yogyakarta pada tahun 1920-1922.
  3. Penulis lepas di Koran El Debate Filipina pada tahun 1924-1927.
  4. Kerani di Perusahaan Impor di Singapura pada tahun 1927.
  5. Pendiri dan guru di Foreign Language School Cina pada tahun 1936-1937.
  6. Guru bahasa Inggris dan matematika di Nanyang Chinese Normal School Singapura pada tahun 1934-1941.
  7. Juru tulis pertambangan batu bara di Bayah, Banten pada tahun 1941-1945.
  8. Tukang jahit di Kalibata, Jakarta pada tahun 1942.

Kalau dilihat, pekerjaan mana yang paling dia sukai, jawabannya kemungkinan adalah menjadi guru. Karena Tan Malaka sejak awal bercita-cita menjadi seorang guru (Tan Malaka, 2010). Bagi Tan, seperti ia tulis dalam karyanya: Dari Penjara ke Penjara Jilid I (1948), “Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting”. Perkataan ini pernah dia buktikan pada tahun 1921.

Pertengahan tahun 1921, Tan berada di Yogyakarta. Saat itu sedang ada Kongres Sarekat Islam. Sutopo memperkenalkan kawannya itu kepada Tjokroaminoto, Semaoen, dan Darsono. Setelah selesai kongres, mereka rapat. Dalam rapat itu, Semaoen mengusulkan perlunya mendirikan sekolah bagi anak-anak. Usulan itupun diterima.

Juni 1921, Semaoen manandatangani sebuah surat bersama Budisutjiro (Sekertaris SI Semarang). Surat itu dikirim kepada Residen. Dalam surat itu ada pernyataan bahwa akan dibuka sekolah bagi anak-anak pada 21 Juni 1921, tepatnya pukul 7.30 pagi. Pendidikan yang akan diajarkan di dalamnya adalah bahasa Belanda. Dan, Tan yang terpilih sebagai gurunya.

Waktu sekolah dibuka, murid yang mau belajar sudah ada 50 anak. Setelah seminggu, bertambah jadi 80 anak. Fasilitas sekolah belum lengkap. Tapi Tan tetap sabar mengajar mereka. Di kelas itu, dia betul-betul membuktikan bahwa dia sangat mencintai profesi sebagai guru. Dan, betapa bahagia mereka yang pernah langsung belajar kepada Tan (Tan Malaka, S.I. Semarang dan Onderwijs, 1921).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id