60 Tahun Makam Cut Nyak Meutia “Hilang”
Tempat , TERBARU 19:00
0
Shares

Siapa yang mengenal sosok perempuan yang satu ini, Cu Nyak Meutia. Wajahnya sempat terpampang pada uang kertas bernilai Rp. 1.000 yang resmi dikeluarkan Bank Indonesia pada Senin, 19 Desember 2016.

Dia adalah pahlawan nasional. Kiprahnya dalam membela tanah air sangat besar. Dia sempat bertarung melawan Belanda dalam beberapa pertempuran. Meski seorang perempuan, keberaniannya tak pernah diragukan.

Pada 24 Oktober 1910, dia terlibat pertempuran melawan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam peperangan sengit itu dia gugur setelah tertembak musuh. Tubuhnya yang bersimbah darah jatuh ke bumi.

Salah satu saksi kematiannya adalah Sersan W.J. Mosselman. Dia adalah orang yang berhasil meluncurkan peluruh ke tubuh pendekar perempuan asal Aceh itu.

Setelah berhasil menjatuhkan Cut Nyak Meutia, dia tak langsung pergi. Dia terlebih dahulu memberi hormat pada jasad yang baru saja dibunuhnya.

Sebelum meneruskan tugas-tugas selanjutnya lebih dahulu ku perintahkan pasukan supaya membaringkan mayatnya serta membungkusnya dengan tikar-tikar yang kebetulan terdapat di situ. Saya membuka topi, sejenak berdiri di sampingnya untuk memberi hormat,” katanya sebagaimana diceritakan dalam buku Cut Nyak Meutia: Serikandi yang Gugur di Medan Perang Aceh (1982) karya T. Alibasjah Talsya.

Setelah itu, kabar jasad perempuan pemberani itu tak pernah diketahui. “Selama 60 tahun makam Cut Nyak Meutia tidak ditemui,” tulis Talsya. Untuk menemukannya berbagai upaya dilakukan.

Pada tanggal 27 Juli 1972, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Camat Matangkuli mengumpulkan tim pencarian. Mereka berangkat menuju lokasi yang sempat dijadikan sebagai medan peperangan, yakni suatu tempat di mana Meutia gugur.

Perjalanan yang mereka tempuh tak mudah. Karena aksesnya susah. Mereka hanya bisa menggunakan sepeda untuk sampai ke Meunasah Alue Blang.

Dari sana, mereka harus berjalan kaki. Karena mereka sudah memasuki wilayah hutan. Kampung yang mereka tuju adalah Krueng Leuhob, sebuah pemukiman terpencil yang berada di pedalaman.

Mereka tiba di sana pada pukul 16.30. Karena matahari sudah mulai tenggelam, mereka bermalam di desa itu. Baru keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Pagi-pagi, 28 Juli mereka meneruskan pencarian. Dari Krueng Leuhob, mereka berjalan menuju Alue Baneng. Di tengah perjalanan, mereka harus melewati hutan belantara dan perbukitan.

Tanpa lelah, mereka terus menancapkan semangat untuk menemukan makam pahlawan perempuan itu yang tak diketahui keberadaannya selama 60 tahun. Tapi usaha mereka gagal. Mereka tak menemukannya di kampung itu.

Karena tak berhasil, mereka kembali ke Krueng Leuhob. Mereka lagi-lagi menginap di sana. Seperti sebelumnya, mereka melanjutkan perjalanan pada esok harinya. Karena tak mungkin melakukan perjalanan malam hari di tengah hutan.

Pada tanggal 29 Juli, mereka kembali berangkat. Mereka mencarinya di lokasi lain. Tempat baru yang mereka tuju adalah Alue Dua. Sebelum sampai ke sana, mereka harus melewati kampung Alue Kunyet, Alue Eumpang Gampet, dan Krueng Peutoe.

Mereka tiba di Krueng Peutoe pada siang hari. Karena perjalanan terus dilanjutkan, mereka bisa sampai ke Alue Dua pada sore harinya. Namun di sana, mereka juga tak menemukan makam Meutia.

Esok harinya mau tak mau dia harus kembali lagi ke Krueng Peutoe. Dari sana, mereka menempuh jalan yang berbeda. Mereka menuju Alue Krah. Sampai di kampung itu, mereka lanjut lagi ke Alue Kureng.

Dari situ masih terus ke hulu sampai menemukan jalan bercabang. Cabangnya ada dua, ke kanan dan ke kiri. Mereka mengikuti jalan yang ke kanan. Pada belokan yang kedua, mereka akhirnya menemukan apa yang mereka cari itu.

Pada 30 Juli 1972, setelah 60 tahun akhirnya makam Cut Nyak Meutia ditemukan. Makam itu berada jauh dari keramaian, di sebuah kampung terpencil, Alue Kureng. Sepuluh meter di sebelah makamnya, terbujur makam Teungku Seupot Mata.

Dari sejak itu, akhirnya makam pahlawan tersebut dirawat dengan baik oleh pemerintahan setempat. Dan, berkat pencarian itu banyak orang menziarahinya.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id