5 Film Potret Pendidikan Kita
Serba-Serbi , TERBARU 19:50
0
Shares

Sampai sekarang, pendidikan di Indonesia masih mengandung banyak persoalan. Persoalan yang dihadapi beragam, mulai dari faktor geologi, ekonomi, dan kebijakan pemerintah sendiri. Di dalam negeri, banyak bermunculan sutradara-sutradara handal yang merekam persoalan tersebut melalui film-film mereka. Ada film karya mereka yang betul-betul menggambar persoalan pendidikan di Indonesia.

Denias, Senandung di atas Awan

flmpen1
Film ini dirilis pada tahun 2006. Sutradaranya adalah John de Rantau. Film yang berdurasi 110 menit ini menceritakan kisah perjuangan Denias untuk mendapatkan pendidikan layak. Dia adalah anak pedalaman suku Papua. Kisah ini diadaptasi dari kisah nyata seorang anak bernama Janias, yang juga merupakan warga Papua.

Setting lokasinya aalah pulau Cendrawasih. Film ini berhasil masuk panitia seleksi Piala Oscar, 2008. Pemainnya, di antaranya adalah Albert Thom Joshua Fakdawer, Ryan Stevano William Manoby, Ari Sihasale, Nia Zulkarnain, dan lain-lain.

Sokola Rimba

flmpen2

Seperti Denias, film ini juga berangkat dari kisah nyata. Kisah nyata ini diadaptasi dari cerita tentang seorang perempuan bernama Butet Manurung. Film ini berlatar Indonesia setelah reformasi. Bintang utamanya adalah Prisia Nasution. Dalam film ini, dia berperan sebagai Butet.

Awalnya, dia bekerja di sebuah lembaga konservasi wilayah Jambi selama hampir tiga tahun. Tapi kemudian dia menemukan makna hidupnya sendiri, yakni mengajar anak-anak suku pedalaman membaca dan menulis. Suku mereka itu dikenal sebagai Suku Orang Rimba. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang anak rimba, Nyungsang Bungo. Anak ini rupanya sangat antusias belajar meski dari pedalaman.

Alangkah Lucunya Negeri Ini

flmpen3

Film ini dirilis oleh Deddi Mizwar. Kisah di dalamnya mengangkat cerita seorang pemuda. Namanya, Muluk. Tokoh ini diperankan oleh Reza Rahardian. Dalam film ini, Muluk diceritakan sebagai mahasiswa strata-1 manajemen. Tapi setelah lulus, dia susah cari pekerjaan di negerinya sendiri.

Suatu ketika, dia memergoki pencopet cilik¬†melakukan aksinya dipasar. Tapi Muluk tak menangkapnya. Dia malah memilih untuk mengajar para pencopet. Sampai akhirnya, mereka tak lagi menjadi pencopet. Itulah pendidikan yang diajarkan dalam film ini. Karena orang menjadi pencober bisa jadi bukan pilihan tapi karena “fakta sosial” kalau meminjam istilahnya Durkheim.

Tanah Surga Katanya

flmpen4

Film ini menggambarkan dan memotret kondisi sosio-ekonomi masyarakat di daerah perbatasan dengan Malaysia. Warga tersebut tergolong miskin. Sementara wara negara tetangga sebelahnya justru berbeda. Mereka bahkan menjual panen taninya ke Malaysia dan uang dipakai adalah ringgit.

Dalam film ini digambarkan betapa mereka “amat ditirikan” di negerinya sendiri. Padahal, katanya negara mereka adalah tanah surga. Itulah kira-kiran pesan yang ingin disampaikan. Yang lebih menyedihkan¬†anak-anak SD sama sekali tak mengenal negaranya sendiri. Jangankan soal nasionalisme yang sering diperdebatkan di Ibu Kota, hapal Indonesia Raya saja tidak.

Atambua 39 Derajat Celcius

flmpen5

Sebagaimana dinyatakan oleh sang sutradara sendiri, Riri Riza, bahwa para pemeran utama dalam film ini adalah kunci inspirasinya. Riri tak melibatkan para aktris bintang. Dia malah memilih masyarakat asli Timor sebagai pemerannya.

Film ini berdurasi 90 menit. Di dalamnya memotret persoalan sosio-ekonomi masyarakat Indonesia bagian Timur yang dilanda berbagai persoalan, baik itu ekonomi, politik, dan bahkan pendidikan. Lewat film ini, penonton akan diajak untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang nasib warga “Timur”. Masalah pendidikan yang mereka hadapi sangat krusial.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id