3 Buku Koleksi Pertama Bung Hatta
Serba-Serbi , TERBARU 20:26
0
Shares

Bung Hatta memang dikenal sangat mencintai buku. Ketika dibuang ke Digoel ‘pun, dia masih sempat membawa empat peti. Semua isi peti itu adalah buku koleksinya. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,” itu salah ucapannya yang sangat populer. Tapi tahu nggak, kapan dia jatuh cinta kepada buku dan buku apa yang pertama kali dia koleksi?

Buku yang pertama kali dia koleksi ada tiga. Yakni: Staathuishoudkunde 2 jilid cetakan pertama karya N.G. Pierson, De Socialisten 6 jilid karya H.P. Quack, dan Het Jaar 2000 karya Bellamy.

Ketiga buku itu, dia beli di sebuah toko buku “antiquariaat di sebelah societeit ‘Harmonie’,” tulis dia sendiri dalam buku otobiografinya, Memoir Bung Hatta (1979). Dia beli buku awalnya tak niat. Dia diajak oleh Ma’ Etek Ayub, demikian Hatta memanggilnya.

Ayub itu adalah orang yang banyak membantunya dalam menyelasaikan sekolah di Prins Hendrik School (PHS). Bantuan yang dia berikan kepada Hatta bukan hanya berupa materi tapi juga dukungan moril.

Pada suatu hari di bulan Agustus 1919, Hatta main ke kantor “om”nya itu di Patekoan. “Aku sampai di sana kira-kira jam 4 sore,” tulis dia sendiri. Setelah duduk dan berbincang-bincang, dia diajak oleh pamannya mengunjungi toko buku yang berada di sebelah societeit ‘Harmonie’ itu.

Sesampianya di toko buku, Hatta mencari pelajaran kimia. Tapi yang dia cari tak ada. Tiba-tiba, Ayub membelikannya tiga buku besar-besar itu. Itulah buku koleksi pertamnya. Berkat pemannya, dia kelak menjadi orang yang sangat mencintai buku.

Ketika sampai di tempat tinggalnya yang berada Kampung Lima, malam itu dia mulai membaca buku-buku yang baru dibelikan pamannya. Buku pertama yang dia baca adalah Staathuishoudkunde-nya Pierson.

Maksudku bermula untuk membalik-balik saja dulu, tetapi setelah kumulai membaca, hatiku tertarik untuk meneruskan membacanya,” tutur Hatta. Karena mulai tertarik dia terus membacanya hingga selesai.

Sejak itu dia membuat jadwal khusus untuk membaca buku. Setelah selesai buku pertama, dia pindah ke bukunya Pierson yang 6 jilid itu. “Selain terlalu tebal, banyak isinya yang belum dapat ku pahamkan. Harus dipilih dulu pasal-pasal mana yang akan didahulukan mambacanya,” kata Hatta.

Dalam buku-buku itu dia menemukan sesuatu yang baru. Cakrawala berpikirnya ‘pun luas. Dia mulai mengenal teori-teori Platon—filsuf Yunani—melalui buku De Socialisten itu. Dari sejak itu dia akrab dengan filsafat Barat. Dan, kecintaannya terhadap buku, ibarat bibit yang berada di tanah subur, tumbuh dengan cepat.

Tak heran kalau kelak ketika menikah, maharnya ‘pun adalah buku. Buku yang dia jadikan mas kawin itu adalah “Alam Pikiran Yunani” karyanya sendiri. Itu adalah buku filsafat yang membahas tokoh-tokoh filsuf Yunani.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id