26 Koran di Masa Orde Baru
Serba-Serbi , TERBARU 19:38
0
Shares

Orde Baru (Orba) dikenal sebagai “era kegelapan” bagi pers di Indonesia sepanjang sejarah kemerdekaan. Karena di era itu banyak penerbit-penerbit surat kabar mengalami pencekalan, mulai dari pengawasan, pelarangan, hingga penutupan. Pencekalan itu bermula setelah peristiwa G30S meletus di Jakarta. Tahun 1965, dari bulan Februari sampai Maret, ada 29 koran dilarang terbit. Selain itu, ada 46 dari 163 koran ditutup secara paksa tanpa alasan yang jelas. Pasalnya, koran-koran itu diduga dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tapi terlepas dari itu semua, ternyata sepanjang era Orba (1966-1998) ada 26 koran yang hidup dan masih bisa beroperasi. 26 koran itu, yakni:

Angkatan Bersenjata

Koran ini merupakan milik Yayasan Manggala Press Jaya dan didirikan pada tahun 1965. Surat kabar ini juga disebut sebagai media kepunyaan tentara. Dalam penyebarannya, sebagian didistribusikan melalui Departemen Penerangan dan ABRI.

Berita Buana

Berita Buana merupakan salah satu koran yang dapat beroperasi di era Orba. Koran ini didirikan pada 1971 di bawah PT. Berita Buana Press. Dari tahun 1990-1992, koran ini sempat bekerja sama dengan Kelompok Ika Muda kepunyaan Sutrisno Bachir. Koran ini merupakan harian islami yang dikenal sangat pro-pemerintah.

Berita Yudha

Demikian pula dengan Berita Yudha. Sebagai pers yang berkembang di era Orba, koran ini merupakan media yang sangat dekat dengan TNI dan Golkar. Koran ini didirikan pada 1965. Yayasan yang menaunginya adalah Yayasan Parikesit.

Bisnis Indonesia

Ini merupakan koran bisnis. Didirikan pada tahun 1985. Perusahaan yang mengendalikan koran ini adalah Jurnalindo Aksara Grafika. Selain itu, koran ini juga banyak mendapatkan dukungan dari kelompokk-kelompok bisnis besar, seperti Sahid, Indocement, dan Jaya.

DeTIK

DeTIK didirikan pada tahun 1977. Yayasan yang menaunginya adalah Yayasan Pancasila Mulya. Tabloid ini bergerak dalam peliputan terkait politik. Keberaniannya sebagai pers, kemudian menonjol ketika bergabung dengan Surya Persindo di akhir 1992. Sejak itu, tabloid itu berani meliput dan menginterview para tokoh politik tanpa takut dan membeberkan apa adanya di depan publik pembaca. Akhirnya, pada bulan Juni 1994, koran ini diberedel.

Harian Indonesia

Pada tahun 1966, koran Harian Indonesia resmi terbentuk dan terbit. Ia berada di bawah naungan Yayasan Indonesia Press. Harian ini pernah menerbitkan secara berkala berita-berita berbahasa Cina bersama Berita Buana dan BAKIN.

The Indonesian Observer

Koran ini merupakan salah satu koran di era Orba yang menggunakan bahasa Inggris. Ini didirikan pada tahun 1966 oleh B.M. Diah melalui The Indonesia Observer Ltd. Di dalamnya sempat memuat konten-konten manarik, terutama terkait kolom opini yang ditulis oleh seorang politisi “Petisi 50”. Di antaranya, Slamet Bratanata dengan menggunakan nama samaran.

Indonesia Times

Indonesia Times juga merupakan harian berbahasa Inggris. Koran ini didirikan pada tahun 1974. Koran ini dikenal sangat pro-pemerintah, sebagai pengganti dari harian Jakarta Times yang diberedel pemerintah pada tahun 1974. Koran ini didirikan oleh PT. Marga Pers Mandiri.

Jakarta Post

Koran ini pernah dikenal sebagai pemegang pasar media waktu itu. Ini didirikan sejak tahun 1983. Perusahaan yang mendirikan koran ini adalah PT Bina Media Tenggara. Orang yang dikenal pernah memiliki saham besar di dalamnya adalah Harmoko, yang waktu itu masih menjabat sebagai Menteri Penerangan. Koran ini sampai sekarang masih beroperasi dan memuat sejumlah berita dan artikel yang menarik dalam bahasa Inggris.

Jawa Pos

Jawa Pos merupakan salah satu pers yang ada di era Orba yang juga berhasil merajai pasar. Koran yang didirikan pada tahun 1949 di bawah kendali PT. Jawa Pos ini sempat diambil oleh kelompok Tempo pada tahun 1982. Namun, setelah dikembangkan oleh editor, Dahlan Iskan, koran ini berhasil mendominasi daerah Jawa Timur dan wilayah bagian timur Indonesia. Dan berhasil keluar dari kontrol eksklusifitas industri pers Jakarta.

Jayakarta

Jayakarta ini didirikan pada tahun 1985. Perusahaan yang mendirikannya adalah PT. Citra Jaya Press. Harian ini dikenal sangat terkait dengan pihak tentara melalui Komando Militer Jakarta Raya. Pada tahun 1989 bergabung dengan kelompok Sinar Kasih. Orang yang juga pernah terlibat aktif di dalamnya sebagai pengusaha adalah Ponco Sutowo. Namun belakangan nampaknya sudah tak lagi.

Kedaulatan Rakyat

Harian ini merupakan harian daerah yang dikenal sangat ulet dan sangat menunjukkan sikap nasionalisnya. Koran ini berasal dari Yogyakarta dan didirikan pada tahun 1945 lewat PT. Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat.

Kompas

Koran ini merupakan koran raksasa dan bahkan merupakan salah satu surat kabar terbesar kedua waktu itu di Asia Tenggara. Koran ini didirikan pada tahun 1965 dibawah PT. Kompas Media Nusantara. Koran ini sampai sekarang masih hidup dan memuat berita-berita menarik. Terutama terkait opini-opini dan kolom seni yang mempersilakan bagi penulis-penulis hebat untuk berkontribusi.

Media Indonesia

Media Indonesia ini didirikan pada tahun 1969 di bawah PT Citra Media Nusa Purnama. Namun pada tahun 1989, koran ini diambil alih oleh kelompok Surya Persindo pimpinan Surya Paloh. Koran ini juga punya hubungan dekat dengan Bambang Trihatmojo, seorang konglomerat Bimantara putra presiden. Koran ini oleh Paloh dijadikan pengganti harian Prioritas yang sempat diberedel pada tahun 1987.

Republika

Merupakan surat kabar atau harian yang dikenal pro pemerintah di masa itu dan juga merupakan media Islami. Republika ini didirikan pada tahun 1993. Koran ini menyajikan konten-konten yang inofatif dan menarik. Dan, masih terlestarikan sampai sekarang.

Sinar Pagi

Sinar Pagi merupakan koran harian yang sensasionalis sekali dan sangat digemari kalangan bawah. Koran ini bersaing dengan Pos Kota. Koran ini didirikan pada 1971 di bawah Yayasan Pers ELH Jakarta.

Suara Karya

Adapun Surya Karya adalah koran resmi milik Golkar. Koran ini didirikan pada tahun 1971 melalui PT, Suara Rakyat Membangun. Koran ini jarang mendapatkan konsumen pembaca dari kalangan umum. Koran ini dibagi-bagikan ke kantor-kantor pemerintahan terutama anggota Korps Pegawai Negeri Indonesia (Korpri).

Suara Merdeka

Suara Merdeka merupakan koran harian yang memimpin pasar di Semarang. Koran ini didirikan pada 1950. PT. Suara Merdeka Press yang menaungi koran ini. Koran ini memiliki akar yang kuat ketika harus menghadapi saingan-saingan lain.

Suara Pembaruan

Harian ini merupakan pengganti Sinar Harapan: sebuah harian yang pernah diberedel pada 1986. Suara Pembaruan didirikan pada tahun 1987. Koran ini milik PT. Media Interaksi Utama. Koran ini juga berhasil masuk ke pasaran sebagai salah satu media yang banyak peminatnya.

Surabaya Post

Surabaya Post adalah koran yang didirikan pada tahun 1953. Pendirinya adalah Abdul Aziz. Koran ini memang pernah masuk ke pasaran sebagai salah satu koran yang berhasil bertahan. Namun peminatnya kalah oleh Jawa Pos. Koran ini pernah dimiliki oleh CV. Surabaya Post.

Surya

Terakhir adalah koran Surya. Koran ini didirikan pada tahun 1986. Mulanya, koran ini merupakan mingguan yang diluncurkan oleh Pos Kota. Namun kemudian setelah bekerja sama dengan Kompas pada tahun 1986, koran ini hadir sebagai harian yang independen secara politik.

Merdeka

Merdeka merupakan harian tertua dan kadang sangat terkesan nasionalis sekali, bahkan juga kadang menunjukkan sikap anti luar negeri. Pendirinya adalah B.M. Diah yang juga merupakan pemilik koran itu. Koran ini sendiri didirikan pada tahun 1945 dan merupakan harian yang selamat dari “sensor” pemerintahan Orba. Makanya, tetap bertahan di era Orba walaupun sebenarnya di pasar sirkulasinya mengalami penurunan.

Harian Neraca

Harian Neraca adalah koran yang didirikan pada tahun 1985. Koran ini berada di bawah naungan PT. Persindo Antarnusa. Ini merupakan koran bisnis yang berskala kecil. Dan sirkulasinya juga tidak banyak. Tapi walaupun begitu, koran ini merupakan salah satu yang berhasil hidup di era Orba.

Pelita

Ini merupakan harian pro Islami yang dikenal pro Golkar. Didirikan pada tahun 1974, di bawah PT. Pelita Persatuan. Koran ini merupakan pengganti dari media Abadi yang ternyata tidak abadi. Karena harus diberedel pada 1974 oleh pemerintahan Orba. Pada awalnya koran Pelita ini bersikap kritis sekali kepada pemerintah. Tapi ternyata nasibnya sama dengan koran sebelumnya. Pada tahun 1982 diberedel pula. Dan, pada 1985 diambil alih oleh para tokoh Golkar. Seorang pengusaha Aburizal Bakri dan Fadel Muhammad pada tahun 1990 menaruk saham besar-besaran pada koran itu.

Pikiran Rakyat

Ini merupakan koran rakyat yang kuat dan berbasis di Bandung. Koran ini didirikan pada tahun 1956, kemudian direstrukturasi pada 1966. Koran ini memang merupakan koran yang dikenal independen di masanya. Tapi walaupun independen, koran ini juga sempat menguasai pasar.

Pos Kota

Yayasan Antar Kota pada tahun 1970 membuat koran Pos Kota. Koran ini didirikan oleh Harmoko, Menteri Penerangan. Koran ini fokus pada hal-hal yang menggelitik dan berita-berita kriminal. Akhirnya koran ini mendapatkan banyak konsumen dari kalangan bawah. (Sumber: David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 2011)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs