20 Mei: Tak Hanya HARKITNAS
Peristiwa , TERBARU 03:34
0
Shares

SejarahRI.com – 20 Mei selalu jadi momen penting. Karena sejak 1948, tanggal tersebut resmi dijadikan sebagai tarikh khusus untuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS). Dan, yang umum dikenal, tanggal tersebut dirujuk dari hari kelahiran organisasi Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908. Namun sebenarnya, selain HARKITNAS dan BO, ada peristiwa lain yang terjadi pada tanggal itu juga (20 Mei) dan tak kalah penting. Apa saja?

Gunung Krakatau Meletus

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang berada di Selat Sunda, yakni antara Pulau Jawa dan Sumatera. Nama ini dikenal luas sebagai nama sebuah gunung merapi yang pernah berada di sana. Biasa disebut, Gunung Kratakau. Gunung ini sirna lantaran metelus pada tahun 1883. Peristiwa itu disaksikan oleh Alexander Cameron. Dia menulis kejadian tersebut dalam suratnya yang ditujukan kepada Earl Granville, sekretaris urusan negeri seberang Gladstone.

Dalam laporan yang ditandatanganinya di Batavia dan bertarikh 1 Seprtember 1883 itu, dia menulis, “Yang Mulia… Titik di mana kekuatan-kekuatan bawah bumi itu menemukan salurannya adalah Pulau Krakatau…Pulau itu menjadi tempat letusan gunung berapi pada 20 Mei lalu, yang sekalipun pada waktu itu tercipta sebuah kawah yang sepenuhnya baru, tidak mengakibatkan bencana pada nyawa manusia maupun properti sebesar yang diakibatkan oleh letusan yang dimulai pada tanggal 27 yang baru lalu tersebut. (Simon Winchester, Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, th. 2003)” Mulanya tanggal 20 Mei. Namun letusan itu terjadi secara besar-besaran baru pada tanggal 27 Agustus.

Timor Timur Jadi Timor Leste

Sejak 1976, namanya masih Timor Timur dan menjadi bagian provinsi yang ke-27 di Indonesia. Sebelumnya, bernama Timor Portugis. Karena dari 1596 s/d 1975, wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Portugal. Ketika Indonesia menganeksasinya pada 1975, sejak itulah nama Timor Portugis diganti Timor Timur. Namun seiring perubahan yang terjadi di tampuk pemerintahan Indonesia, nama tersebut diganti lagi. Timor Timur tak lagi dipakai dan sebagai sebuah nama menjadi usang. Sebab yang semula provinsi, jadi negara terpisah dan merdeka.

Senin 20 Mei 2002, tepat pukul 00.00 waktu setempat, lahir satu negara baru ke dunia, Republik Demokratik Timor Leste,” demikian bunyi warta harian Kompas (20 Mei 2002). Itulah nama barunya, Timor Leste. Hari itu menjadi momen bersejarah. Karena setelah itu, Indonesia harus “rela kehilangan” salah satu wilayah yang sempat jadi provinsinya itu. Dan, di hari itu pula, warga Timor Leste atau yang “juga disebut Timor Lorosa’e”—tulis Gomer Liufeto—dapat mewujudkan kemerdekaannya. “Setelah menjadi negara merdeka, perhatian dan bantuan negara-negara lain untuk membangun ekonomi Negara Demokratik Timor Leste itu begitu banyak,” kenang Liufeto dalam Bersama Sosok John Haba: Teman, Pendeta, dan Ilmuwan yang terhimpun di  Beta Orang Kupang: Mengenal John Haba Lewat Para Sahabat (2017).

Peresmian Istora Senayan

Istana Olahraga (Istora) Senayan atau yang sekarang sering disebut “Gelora Bung Karno” (GBK), banyak orang mengenal, tanggal peresmiannya adalah 24 Agustus 1962. Padahal, itu adalah tanggal perampungan akhir sebelum kembali diperluas. Sebelumnya, berbagai gedung secara bertahap telah diselesaikan. Dan, gedung indoor utama ‘pun sudah diresmikan setahun sebelumnya. Yang menarik, peresmiannya bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Istana Olahraga untuk tempat menyelenggarakan pertandingan indoors dinyatakan selesai persis pada Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 1961,” Julius Pour, Gelora Bung Karno (2004). Berdasarkan laporan Madjalah Sedjarah Militer Angkatan Darat (1961), peresmian itu berlangsung pada “djam 19.00 malam”. Dan dihadiri oleh beberapa pejabat penting baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya seperti para menteri dan pihak terkait dari Uni Soviet.

Gedung Kebangkitan Nasional

Awalnya, gedung ini (GKN) adalah tempat belajar siswa dari keluarga tertentu yang diperbolehkan oleh Belanda untuk mengenyam pendidikan Eropa. School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), namanya. Ini adalah sekolah kedokteran. Lokasinya berada di Jalan Abdul Rachman Saleh 26 Jakarta Pusat. Namun sejak era Orde Baru (Orba), gedung ini dialihfungsikan menjadi museum sejarah dan dikenal sebagai GKN atau istilah lainnya, Museum Kebangkitan Nasional.

Pengalihfungsian ini, “diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 Mei 1974,” sebagaimana laporan Museum-Museum di DKI Jakarta (1998/1999). Pemugarannya sudah dilakukan setahun sebelumnya. Jadi, tanggal 20 Mei juga merupakan tanggal peresmian gedung tersebut, yang tak lain juga untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Karena masih memiliki keterkaitan historis mengingat pekumpulan Boedi Oetomo lahir di situ. Sejak diresmikan sampai 1982, gedung ini dikelola oleh Pemda DKI Jakarta. Namun sejak 27 September 1982, giliran pemerintahan pusat (Departemen Kebudayaan dan Pendidikan melalui teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan) yang ambil alih.

Ulang Tahun Divisi Siliwangi

Ini adalah satu salah satuan tentara pejuang Indonesia saat revolusi. “Divisi Siliwangi didirikan pada tanggal 20 Mei 1946, dengan Panglimanya Kolonel Nasution,” tulis Dewi A. Rais Abin dalam Hidayat: Father, Friend, and a Gentlemen (2016). Peristiwa ini terjadi dua tahun sebelum HARDIKNAS “dikumandangkan” untuk kali pertamanya di Yogyakarta. Dalam Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan (2010), Soekarno menyebutnya sebagai “hari yang keramat.” Bahkan dalam buku tersebut (hlm. 84), Bung Karno berharap “Semoga ini bukanlah suatu hal yang kebetulan.

Namun ketika dikonfirmasi kepada A.H. Nasution selaku jenderal yang sempat menjadi panglimanya itu, jawabannya justru berbeda. Bagi Pak Nas, tanggal 20 Mei adalah hari biasa saja. “Jenderal Nasution mengatakan bahwa tanggal 20 Mei itu sebenarnya kebetulan saja, meskipun kebetulan jatuh bersama-sama dengan tanggal Hari Kebangkitan Nasional,” seperti dilaporkan Sinar Harapan (19 Mei 1973). Meski dianggap hari biasa oleh Pak Nas sendiri, ternyata kelak oleh Ahmad Mansur Suryanegara, (Api Sejarah Jilid II, 2015) justru dianggap sebagai “akar tarikh” Hari Kebangkitan Nasional itu. Dalam catatan kakinya, no. 58, dia memaparkan secara jelas, “Menurut penulis lebih tepat 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Siliwangi daripada Boedi Oetomo yang jelas menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia,..




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs