20 Mei, “Mitos” HARKITNAS?
Peristiwa , TERBARU 23:12
0
Shares

SejarahRI.com – Setelah dua tahun lebih diam di Yogyakarta, 20 Mei 1948 Bung Karno berpidato di Gedung Agung yang terletak di Jalan Margomulyo (sekarang, Jalan Ahmad Yani). Dalam kesempatan ini, di hadapan para hadirin dia berseru, “Galanglah persatuan Nasional! Kita harus menjusun machtspolitik!” kenang Ki Hadjar Dewantara, Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan (1952).

Acara tersebut diselenggarakan untuk memperingati 40 Tahun pergerakan nasional yang diberi nama Hari Kebangunan Nasional. “Baru sesusah 1950-an, sebutan itu diganti dengan ‘Hari Kebangkitan Nasional’,” tulis Solichin Salam dalam Soekarno-Hatta (1991). Itulah kali pertama bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan negerinya (Hari Kebangkitan Nasional disingkat, HARKITNAS) melalui suara para elit politik dari berbagai aliran.

Latar Belakang

Menurut Eros Djarot, Rapot Indonesia Merah (2006), peristiwa itu “merupakan manifestasi kehendak dan semangat untuk memperoleh dan memaknai Kemerdekaan, hidup Merdeka dan Memerdekakan.” Sebab, ancaman Belanda masih berlangsung. Melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) negara tersebut bergabung dengan Sekutu (AFNEI, Allied Forces in Netherlands East Indies) untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Teror ini yang juga menyebabkan Bung Karno terpaksa pindah dan memindahkan ibukota ke Kota Keraton itu sejak awal 1946.

Di tengah situasi mencekam seperti ini di mana Indonesia harus menghadapi tekanan polilik dari luar, bangsanya sendiri malah terlibat pertikaian internal dan hampir mendekati jurang perpecahan akibat perbedaan ideologi dan orientasi politik. Partai-partai besar berkonflik. Seperti, ketegangan serius yang terjadi antara Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Sosial Indonesia (PSI), Partai Majelis Syuro Muslimin (Masyumi) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Untuk mengatasinya, berbagai upaya dilakukan. “Salah satu cara yang dipilihnya dengan pendekatan kesadaran sejarah, mengadakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional,” tulis Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 2 (2015). Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Mr. Assat diperintah oleh Bung Karno untuk menyelenggarakan rapat dengan perwakilan-perwakilan dari berbagai kalangan.

Susunan kepanitiaan yang dihasilkan adalah Ki Hadjar Dewantara sebagai ketua pusatnya. Adapun para anggotanya adalah A.M. Sangadji (Masyumi), Sabilal Rasjad (PNI), Tjugito (elit PKI sekaligus mewakili FDR), H. Benyamin (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), Tatang Mahmud (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), dan Ny. A. Hilal (Kongres Wanita Indonesia). Melalui agenda tersebut, sebagaimana catat Pramoedya Ananta Toer (dkk) dalam Kronik Revolusi Indonesia: 1948 (2003), “Di situ PKI dicoba dipersatukan dengan partai-partai lain.

Pada kesempatan ini, Partai Demokrasi Rakyat (FDR), PNI, Masyumi, dan beberapa perkumpulan pemuda/pemudi berembug keselarasan gagasan dan program untuk satu tujuan yang sama, yakni kebangkitan bangsa. Ketiga partai ini mengupayakan pencapaian persatuan sehingga pembinaan Indonesia yang merdeka dan demokratis bisa terwujud. “Memang pada 20 Mei 1948, FDR bersama PNI dan Masjumi mengeluarkan pernyataan bersama,” catat Soe Hok Gie, Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (1997).

Keesokan harinya, tanggal 21 Antara melaporkan kembali penyataan yang dikeluarkan mereka, “…untuk dapat mengatasi segala kesukaran dan penderitaan rakjat, dan menolak tiap2 bahaja jang mengantjam atau menimpa keselamatan Negara Republik Indonesia jang bertambah besar itu, sangat perlu adanja kesatuan sikap,..” Namun, penyatuan sikap ini tak berarti menghapus ragam perbedaan. Upaya itu“…tidak berarti menghentikan tugas kewadjiban partai2, ataupun melalaikan dasar2 dan azas2 perdjuangan masing2..

Memilih Tanggal

Awalnya, untuk menyelenggarakan ide tersebut, “Bung Karno memanggil Ki Hadjar Dewantara,” imbuh Pram (2003). Bapak Pendidikan Indonesia ini bersama Dr. Radjiman Wedijodiningrat mengusulkan supaya hari “H” diselenggarakan pada 20 Mei. Kenapa tanggal ini yang dipilih? Rupanya untuk merujuk pada hari lahirnya sebuah kemunitas pendidikan, Boedi Oetomo (BO) yang sempat eksis pada era 1920-an. Padahal, perkumpulan yang didirikan pada 1908 ini sudah bubar sejak 1931.

Selain itu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah BO kan organisasi elitis yang didominasi kalangan priyai loyalis Belanda. Terbukti pada Kongres XX-nya, 1928 di Surakarta, BO menolak keras cita-cita persatuan Indonesia sebagai respon antipati terhadap keputusan Jong Islamieten Bond Congres. Bagaimana mungkin kelahirannya dapat dijadikan sebagai “akar tarikh” dari Hari Kebangkitan Nasional?

Oleh karena itu, tak heran bila kemudian banyak tanggapan bermunculan. Bahkan, sejarawan Taufik Abdullah menyebut “mitos” untuk HARKITNAS itu dalam “May 2008 and One Hundred Years Ago: History, Myth, and Consciousness,” yang dimuat di Masyarakat Indonesia, (2008). Meski demikian, dalam artikelnya yang dipresentasikan pada seminar “100th Anniversary of National Awakening Day,“ (Kedutaan Besar Indonesia di Praha, Republik Ceko, Juni 2008) dia menulis, “Pemahaman sejarah yang imagenatif dan mitologisasi sejarah yang kreatif ternyata adalah strategi yang ampuh dalam peneguhan integrasi nasional.

Berbeda dengan Abdullah, Suryanegara (2015) justru memberikan kesimpulan lain. Menurut dia, “Sebenarnya sukar dimengerti, sangat bertentangan dengan sejarahnya, tetapi Kabinet Hatta melalui kekuasaan pemerintah tetap memutuskan dan menetapkan 20 Mei sebagai kebangkitan kesadaran nasional.” Lalu dia menulis pada catatan kakinya, no. 58. “Menurut penulis lebih tepat 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Siliwangi daripada Boedi Oetomo yang jelas menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia,..

Untuk mengetahui apa sebenarnya alasan memilih tanggal tersebut, setidaknya penting kembali mengintip pernyataan Bung Karno sendiri selaku “komandannya”. Pada 20 Mei 1958 di Istana Merdeka, dia sempat menyinggung soal itu. Pada peringatan HARKITNAS yang kesekian kalinya itu, di atas podium Bung Karno berkata:

“…Ada di kalangan kita orang-orang yang bertanja, bukan hanja beberapa gelintir sadja, kenapa kita mengagung-agungkan hari 20 Mei,…toh 20 Mei tahun 1908 ini sekadar hari lahirnja satu perserikatan jang ketjil, jang dinamakan Boedi Oetomo,… Tujuannja pun belum djelas sebagai tudjuan jang sekarang ini. Tetapi Saudara-saudara, marilah kini kita tindjau terbangunnja Budi Utomo dari sudut jang lain.

…Nah Saudara-saudara, 20 Mei 1908 bagi kita djuga adalah satu kemenangan daripada satu azas, kemenangan daripada satu beginsel! Benar Budi Utomo ketjil, benar mata air jang mendjadi permulaan daripada gerakan nasional kita ini ketjil. Benar waktu itu sekadar adalah satu kriwikan,—kata orang Djawa—dan belum gerodjogan…, tetapi bukan itu jang kita peringati. Jang kita peringati ialah bahwa 20 Mei itu berisi kemenangan satu azas, kemenangan satu beginsel. Apa beginsel yang mulia dan luhur jang kita tjetuskan pada tahun 1908 itu Saudara-saudara?… ialah bahwa tiap-tiap bangsa mempunjai hak untuk mendjadi merdeka, (Buletin Perpustakaan Bung Karno, Th.V/Vol.II/2013).”




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id